Kategori: Berita

Mahasiswa Pariwisata ITERA Kembangkan Aplikasi Eduwisata Berbasis Augmented Reality di Kebun Raya Itera

Lampung Selatan, 20 Oktober 2025, tim mahasiswa Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera)—yang beranggotakan Muhammad Alfazri, Kuta Dewata Realino Marpaung, Karima Zahrani Rahman, Vinola Cahyanti, dan Alan Muslih Pratama Dongoran—berhasil mengembangkan prototipe aplikasi eduwisata berbasis Augmented Reality (AR) bernama Amara Patra. Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan Sahid, M.Sc., dan merupakan bagian dari program hibah penelitian mahasiswa Itera Tahun 2025. Proyek ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi Pariwisata Itera mampu mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan edukasi dan pariwisata secara inovatif.

Aplikasi Amara Patra hadir sebagai solusi untuk meningkatkan penyampaian informasi flora di Kebun Raya Itera, yang berfungsi sebagai pusat konservasi, edukasi, penelitian, sekaligus tujuan wisata. Informasi flora selama ini disajikan melalui papan nama dan barcode statis yang terbatas dalam memberikan pengalaman belajar yang mendalam. Melalui teknologi AR, pengunjung kini dapat melihat model 3D tanaman secara langsung melalui gawai mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik, imersif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk pelajar dan wisatawan. Selain menampilkan objek tiga dimensi, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna mengakses informasi lengkap mengenai tanaman tersebut, mulai dari nama, klasifikasi, fungsi, hingga karakteristik flora, sehingga pengalaman eduwisata menjadi lebih komprehensif dan bermakna.

Hasil penelitian mengungkapkan tingginya kebutuhan pengunjung terhadap media pembelajaran yang lebih modern dan menarik. Sebanyak 90,3% responden menilai tampilan visual yang jelas sangat membantu dalam memahami informasi tanaman. Selain itu, 93,5% responden merasa pembelajaran lebih efektif ketika disajikan melalui kombinasi teks, gambar, dan video, sedangkan 80,6% responden menyatakan preferensi terhadap media interaktif seperti AR dibandingkan barcode konvensional. Aplikasi Amara Patra juga memperoleh tingkat penerimaan pengguna (UAT) sebesar 76,03%, yang menunjukkan bahwa aplikasi ini diterima dengan baik dan berpotensi kuat digunakan sebagai media pendukung eduwisata berbasis teknologi di Kebun Raya Itera.

memungkinkan objek tanaman 3D muncul saat kamera diarahkan pada marker atau permukaan tertentu, serta Fitur Informasi Tanaman yang menyajikan deskripsi mengenai setiap flora yang ditampilkan. Prototipe awal mencakup model 3D Bunga Terompet, Kamboja, dan Bunga Matahari. Keberhasilan ini menunjukkan kesiapan aplikasi untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dalam jumlah konten, fitur, maupun penyempurnaan visual.

Dengan hadirnya Amara Patra, mahasiswa Pariwisata Itera telah membuktikan kemampuan mereka dalam memadukan pengetahuan pariwisata dengan inovasi digital. Inisiatif ini tidak hanya menghadirkan media edukasi yang lebih menarik dan efektif, tetapi juga memperkuat peran Kebun Raya Itera sebagai destinasi eduwisata modern, interaktif, dan berkelanjutan yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

Categories: Berita Kegiatan

PROGRAM STUDI PARIWISATA ITERA dan Taman Nasional Way Kambas Gelar FGD untuk Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Industri

Lampung Selatan, 25 November 2025 – Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum pada Senin, 24 November 2025 di Kantor Balai TNWK. Kegiatan ini bertujuan memperkuat relevansi kurikulum khususnya Mata Kuliah Ekowisata dan Studio Ekowisata melalui masukan langsung dari pengelola kawasan konservasi. FGD dihadiri oleh tim TNWK dan dosen-dosen Prodi Pariwisata ITERA, di antaranya Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par., Nana Putri Yanto, M.Sc., Lili Anggraini, M.Par., Ubaid Isna Yudhistira, S.Pd., M.Si., Doni Alfaruqy, M.Pd., serta Fahmi Aziz, S.Si., M.Si.,selaku Koordinator Program Studi Pariwisata dan Sahid, M.Sc selaku Ketua Pelaksana Kegiatan.

Penguatan Ecotourism Engineering dan Kolaborasi Akademik–Industri

Dalam diskusi, TNWK menekankan pentingnya penguatan karakter ITERA dalam bidang ecotourism engineering, mencakup desain kawasan wisata, analisis daya dukung dan daya tampung, serta integrasi ilmu lingkungan dan konservasi. TNWK juga menyoroti perlunya pemutakhiran data kapasitas pengunjung, mitigasi dampak lingkungan akibat aktivitas wisata, serta penerapan manajemen destinasi berbasis keberlanjutan.

Selain aspek teknis, pembahasan juga mencakup pengembangan materi berbasis budaya lokal, keterlibatan masyarakat sekitar, geowisata seperti susur sungai dan bird watching, serta digitalisasi pariwisata melalui pemasaran digital, analisis data wisatawan, virtual tourism, hingga tourism content creation.

Peluang Magang, Penelitian, dan Penyelarasan Regulasi

FGD turut membahas mekanisme kerja sama antara ITERA dan TNWK, termasuk peluang magang mahasiswa, penelitian, serta penyelarasan kurikulum dengan regulasi terbaru seperti P.36 Tahun 2024 mengenai PNBP dan ketentuan penelitian kawasan konservasi.

TNWK juga menegaskan bahwa mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau magang wajib membawa surat resmi dari ITERA serta proposal kegiatan untuk dipresentasikan sebelum diterbitkan persetujuan.

Mewujudkan Pembelajaran Berbasis Praktik dan Kebutuhan Lapangan

Kegiatan FGD ini memperkuat komitmen Prodi Pariwisata ITERA untuk menghadirkan pembelajaran berbasis praktik (project-based learning), terutama dalam Studio Ekowisata yang akan dilaksanakan. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi merancang kawasan ekowisata secara profesional mulai dari analisis kawasan, desain tapak, hingga penyusunan dokumen teknis.

Kerja sama strategis dengan TNWK menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa kurikulum pariwisata ITERA tidak hanya teoritis, tetapi selaras dengan kebutuhan industri dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi di lapangan.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

PRODI PARIWISATA ITERA Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Konservasi dan SDGs Dengan Taman Nasional UJUNG KULON

Lampung Selatan | 19 November 2025 — Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan telah menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum dengan tema “Penguatan Kompetensi Mata Kuliah Ekowisata dalam Mendukung Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Green Tourism)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 19 November 2025 di Ruang E108 FTIK ITERA dan menghadirkan Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, sebagai narasumber yang mewakili Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kepala Balai TNUK tidak bisa hadir pada kegiatan ini.

Penguatan Kurikulum untuk Menjawab Tantangan Ekowisata Berkelanjutan

Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Pariwisata ITERA, Fahmi Aziz, S.Si., M.Si., yang menekankan perlunya penguatan Mata Kuliah Ekowisata agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan konservasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Alumni FTIK, Dion Awfa, S.T., M.T., Ph.D., turut memberikan sambutan mengenai pentingnya integrasi perspektif kewilayahan dan teknologi informasi dalam pengembangan kurikulum pariwisata.

Pemaparan inti disampaikan oleh Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., yang menjelaskan konsep ekowisata berbasis konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon—habitat terakhir badak Jawa dan kawasan Warisan Dunia UNESCO. Beliau menguraikan sistem pengelolaan kawasan yang mencakup pengaturan daya dukung, perizinan SIMAKSI, sistem online booking, pengawasan berbasis patroli, serta implementasi pack in–pack out untuk pengelolaan sampah wisatawan. Selain itu dijelaskan pula zonasi taman nasional, peluang perancangan desain tapak wisata, serta karakter destinasi unggulan TNUK.

Peran Komunitas Lokal dan Tantangan Pengembangan Kawasan

Narasumber menekankan bahwa ekowisata tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat sekitar. Mulai dari pemandu, operator kapal, pemilik homestay, kuliner lokal, hingga pelaku UMKM, masyarakat memiliki kontribusi besar dalam praktik community-based tourism (CBT). Beliau juga memaparkan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, kapasitas SDM, serta urgensi untuk menjaga keharmonisan antara aktivitas wisata dan konservasi ekosistem.

Arah pengembangan TNUK di masa mendatang antara lain mencakup digitalisasi layanan wisata, diversifikasi produk minat khusus dan voluntourism, penguatan kolaborasi multipihak, serta peningkatan citra destinasi melalui strategi branding yang lebih kuat.

Diskusi: Relevansi Kurikulum, Tren Wisatawan, dan Standarisasi

Dalam sesi diskusi, dosen Prodi Pariwisata ITERA mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kompetensi wajib dalam Mata Kuliah Ekowisata, tren kunjungan wisatawan yang mencapai 10.000–15.000 pengunjung per tahun, kesiapan desa wisata dan pokdarwis, hingga relevansi SNI 2014 terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan tetap mengacu pada regulasi kehutanan terbaru, serta bahwa pembinaan pokdarwis difokuskan pada pengelolaan destinasi, bukan sekadar pembentukan desa wisata. Ia juga menegaskan bahwa pengamatan badak tidak lagi diperbolehkan demi menjaga populasi yang hanya sekitar 80–100 ekor.

Workshop berlangsung interaktif dan produktif. Kegiatan ini diharapkan memperkuat arah pengembangan kurikulum Prodi Pariwisata ITERA agar semakin relevan dengan tantangan pengelolaan kawasan konservasi, kebutuhan industri ekowisata, serta prinsip pembangunan berkelanjutan. Acara ditutup dengan diskusi lanjutan terkait peluang kerja sama akademik antara TNUK dan Program Studi Pariwisata ITERA.

Categories: Akademik Berita

Prodi Pariwisata Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan ITERA: Belajar Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Way Kambas

LAMPUNG SELATAN | 17 NOVEMBER 2025 Itera Angkatan 2024 Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu Lampung, 25 Oktober 2025 Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran praktis, mahasiswa Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera) Angkatan 2024 melaksanakan kegiatan kuliah lapangan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu 6, 7, dan 9. Kegiatan ini mengusung tema pariwisata keberlanjutan, dengan fokus untuk memahami dan mengaplikasikan konsep ekowisata serta pelestarian lingkungan dalam pengembangan destinasi pariwisata.

Selama kunjungan, mahasiswa diajak langsung untuk mempelajari bagaimana Taman Nasional Way Kambas sebagai kawasan konservasi gajah dan satwa langka lainnya menerapkan praktik pariwisata yang ramah lingkungan. Mereka berinteraksi dengan pengelola taman dan penggiat ekowisata, yang menjelaskan upaya pelestarian alam serta pemberdayaan komunitas lokal terkait.

Di Desa Labuhan Ratu, para mahasiswa melakukan observasi dan diskusi tentang pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga tanpa merusak kearifan lokal dan lingkungan. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan budaya sebagai aset utama pariwisata berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif pada pengembangan pariwisata di Lampung yang lebih sadar lingkungan dan komunitas.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Mahasiswa Pariwisata ITERA Hidupkan Kembali Dermaga Bom Kalianda Lewat Revitalisasi dan Festival Seni

Lampung Selatan, 1 November 2025 – Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, ITERA sukses melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Studio Manajemen Proyek Pariwisata dengan dosen pengampu Rahmattullah Harianja, S.T.Par., M.M., dan Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par. dikawasan Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung sejak 27 – 31 Oktober 2025 ini menjadi kolaborasi besar antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir untuk menghidupkan kembali kawasan yang sempat mengalami penurunan aktivitas wisata. Melalui dua rangkaian utama, yaitu program revitalisasi sosial kawasan Dermaga Bom dan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025, mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan teori manajemen proyek pariwisata, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kebersihan, estetika, ekonomi kreatif, dan kesadaran budaya masyarakat sekitar.

Revitalisasi Sosial Dermaga Bom: Menghidupkan Kembali Ruang Publik Pesisir
Kegiatan revitalisasi sosial yang dilakukan oleh kelas RB Program Studi Pariwisata ITERA bertujuan untuk
mengembalikan fungsi Dermaga Bom sebagai kawasan wisata. Selama 4 hari, mahasiswa bersama Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perhubungan, PDAM, dan berbagai instansi lainnya melaksanakan aksi clean-
up, perbaikan fasilitas umum, dan penataan area publik. Revitalisasi sosial ini meliputi pembersihan area
amphitheater, landmark, lorong UMKM, lapangan parkir, hingga panggung utama yang lama tidak digunakan.
Mahasiswa juga melakukan pemasangan lampu jalan dan mendukung perbaikan saluran air agar kawasan
lebih aman dan nyaman dikunjungi. Selain kegiatan fisik, mahasiswa menyusun rancangan revitalisasi digital
menggunakan aplikasi SketchUp yang menampilkan konsep penataan ulang kawasan pesisir berbasis
keberlanjutan dan ekonomi kreatif. Desain tersebut menonjolkan area kuliner laut, jalur pedestrian, serta
ruang interaksi sosial yang ramah lingkungan. Kegiatan ini juga menumbuhkan pengalaman profesional bagi
mahasiswa. Mereka terlibat langsung dalam observasi lapangan, perencanaan, dan koordinasi lintas sektor.

Festival Seni BoomBomb 2025: Kolaborasi Seni dan Budaya Lokal | Sebagai puncak kegiatan, mahasiswa menyelenggarakan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025 pada tanggal 31 Oktober 2025 di area amphitheater dan panggung Dermaga Bom. Festival ini mengangkat semangat dayatarik wisata pesisir melalui perayaan seni, budaya, dan kuliner khas Lampung Selatan. Festival yang berlangsung meriah ini menampilkan berbagai kegiatan, seperti live cooking Gulai Taboh, lomba mewarnai anak-anak, pertunjukan tari tradisional, drama musikal “12 Tuping Pudak”, hingga live music dari pelajar SMA dan SMK setempat. Tidak kurang dari 20 pelaku UMKM lokal turut berpartisipasi, menyajikan aneka kuliner pesisir dan produk kerajinan masyarakat. Konsep festival dirancang dengan tujuan memperkuat identitas budaya Lampung Selatan sekaligus mendorong ekonomi kreatif masyarakat pesisir. Dukungan penuh datang dari Dinas Lingkungan Hidup, Polres Lampung Selatan, DPRD, dan Karang Taruna setempat yang ikut membantu keamanan serta logistik kegiatan. “Festival BoomBomb bukan hanya ajang hiburan, tetapi momentum kebangkitan kawasan Dermaga Bom sebagai ruang budaya dan ekonomi rakyat,” ungkap salah satu panitia mahasiswa.

Capaian dan Dampak Nyata
Dari hasil evaluasi kegiatan, baik program revitalisasi maupun festival berhasil mencapai lebih dari 97% target
kinerja. Seluruh indikator, mulai dari keterlibatan masyarakat, kolaborasi lintas instansi, hingga keberhasilan
pelaksanaan acara, menunjukkan hasil optimal.

  1. Enam instansi pemerintah terlibat aktif dalam mendukung kegiatan.
  2. Enam kali aksi clean up dilaksanakan, melebihi target awal empat kali.
  3. Kondisi kawasan Dermaga Bom kini lebih bersih, tertata, dan nyaman.
  4. Partisipasi UMKM dan komunitas seni lokal mencapai 100% dari target yang direncanakan.
  5. Dampak kegiatan tidak hanya terlihat dari aspek fisik, tetapi juga sosial dan edukatif. Masyarakat sekitar kini memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kebersihan dan potensi wisata kawasan. Mahasiswa pun mengalami peningkatan signifikan dalam kompetensi profesional, mulai dari perencanaan proyek, komunikasi publik, hingga kepemimpinan dan kerja sama tim.
  6. Selain itu, kegiatan ini berhasil mengembalikan fungsi amphitheater dan panggung kesenian Dermaga Bom yang sempat tidak aktif. Pertunjukan seni lokal selama festival menjadi bukti bahwa ruang budaya tersebut kembali hidup dan menjadi pusat interaksi masyarakat.

Sinergi Akademik dan Industri Pariwisata
Kegiatan revitalisasi dan Festival Seni BoomBomb menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan
industri pariwisata. ITERA berperan sebagai fasilitator pengembangan destinasi berbasis penelitian dan
pemberdayaan, sementara masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi mitra implementatif di lapangan.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam penguatan ekonomi daerah
melalui inovasi dan kerja nyata mahasiswa. Dengan melibatkan komunitas seni, UMKM, dan pemerintah
daerah, kegiatan ini menjadi model ideal project-based learning yang selaras dengan prinsip Tri Dharma
Perguruan Tinggi. “Kerja sama seperti ini perlu dijadikan agenda tahunan. Selain menjadi laboratorium pembelajaran, kegiatan
ini mampu mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat,”
ujar salah satu pelaku seni Kota Kalianda.
Keberhasilan mahasiswa pariwisata ITERA dalam menghidupkan kembali Dermaga Bom Kalianda melalui
revitalisasi sosial dan festival seni membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor penggerak
perubahan dalam sektor pariwisata. Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian lingkungan,
kegiatan ini menjadi contoh nyata penerapan ilmu di dunia nyata sekaligus kontribusi akademik terhadap
pembangunan daerah. Melalui kegiatan ini, Dermaga Bom Kalianda tidak lagi sekadar pelabuhan pendaratan
ikan, tetapi berubah menjadi simbol kebangkitan pariwisata berbasis budaya, lingkungan, dan komunitas
pesisir Kota Kalianda.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA Laksanakan Kuliah Lapangan di Desa Kiluan Negeri untuk Pengembangan Produk Wisata

LAMPUNG SELATAN | 16 OKTOBER 2025

Mahasiswa Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Angkatan 2023 telah melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Pengembangan Produk Pariwisata di Desa Kiluan Negeri, Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari, mulai tanggal 28 September hingga 4 Oktober 2025, dengan dosen pengampu mata kuliah Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. Rombongan mahasiswa berangkat dari gerbang utama ITERA pada pukul 06.00 WIB, menuju Desa Kiluan Negeri yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Provinsi Lampung. Kegiatan lapangan ini diawali dengan Forum Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Pekon Kiluan Negeri serta beberapa stakeholder yang berperan dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata di wilayah tersebut.

Pihak Pemerintah Pekon menyambut dengan hangat kedatangan mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA dan menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Pihak Pekon dan masyarakat berharap melalui kehadiran mahasiswa dan pelaksanaan kuliah lapangan ini, pengembangan pariwisata di Desa Kiluan Negeri dapat semakin terarah dan berkelanjutan. Selama pelaksanaan kuliah lapangan, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara di sejumlah daya tarik wisata utama Desa Kiluan Negeri, di antaranya Batu Candi, Laguna Gayau, Pantai Pasir Putih, Batu Naga, Bukit Mulyan, dan Dermaga Apung. yang dibagi menjadi beberapa segmen di setiap dusun di Desa Kiluan Negeri seperti Dusun Kiluan Balak, Dusun Bandung Jaya, Dusun Sukamahi dan Dusun Teluk Baru. Selain itu, mahasiswa juga berkesempatan menyaksikan langsung atraksi lumba-lumba di perairan Kiluan dengan menggunakan kapal jukung nelayan setempat, sebuah pengalaman wisata yang menjadi ikon utama Desa Kiluan Negeri. Tak hanya itu, mahasiswa turut berkunjung ke Pulau Kelapa, destinasi eksotis yang menawarkan keindahan panorama laut dan menjadi bagian penting dari aktivitas wisata bahari di Desa Kiluan Negeri.

Selain itu, mahasiswa juga melakukan wawancara langsung dengan masyarakat lokal dan wisatawan guna memperoleh data terkait persepsi, pengalaman, dan kebutuhan wisata di Desa Kiluan Negeri. Kegiatan kuliah lapangan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan data bagi Mata Kuliah Pengembangan Produk Pariwisata, sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menganalisis potensi destinasi dan merancang strategi pengembangan produk wisata yang inovatif dan berkelanjutan.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA mampu mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari selama kuliah, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas dan keberlanjutan pariwisata di Desa Kiluan Negeri.

Categories: Berita

FTIK ITERA Menyelenggarakan Seminar Keprofesian

Lampung Selatan, 28 September 2025 | Setiap tanggal 27 September, dunia memperingati World Tourism Day (WTD) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global terhadap pentingnya sektor pariwisata. Tahun 2025, tema internasional yang diangkat adalah “Tourism and Sustainable Transformation”, yang menekankan peran pariwisata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih baik.

Sebagai Institusi pendidikan yang memiliki fokus pada pengembangan infrastruktur dan perencanaan wilayah, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) turut berpartisipasi dalam perayaan WTD 2025 melalui Seminar Keprofesian Program Studi Pariwisata. Acara ini menjadi wujud nyata kontribusi akademik dalam membangun kesadaran, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, masyarakat, dan praktisi pariwisata.

Tidak hanya melibatkan mahasiswa dan dosen, kegiatan ini juga menggandeng berbagai mitra eksternal, seperti Universitas Terbuka, Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, serta SMK Negeri 4 Bandar Lampung. Kolaborasi ini mencerminkan semangat keterbukaan dan kebersamaan dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan

Categories: Berita

Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang

25 Juni 2025, Lembah Suhita menjadi lokasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang,” sebagai kelanjutan kerjasama antara Program Studi Pariwisata ITERA dan Lembah Suhita. FGD ini bertujuan menghasilkan gagasan konkrit untuk pengembangan eduwisata berbasis lingkungan, menemukan strategi kolaboratif untuk integrasi destinasi dan promosi bersama, serta menyusun langkah awal untuk perencanaan lanjutan dan kemitraan.

Diskusi dimulai dengan berbagai audiensi dari perwakilan berbagai instansi dan sektor terkait. Sudarma dari Vila Kedaung mengusulkan penyelenggaraan wisata jeep eksklusif, branding wisata edukasi Lembah Suhita, perbaikan aksesibilitas jalan dengan tetap memperhatikan ekosistem, dan meminta operator untuk mengidentifikasi target pasar yang tepat. Rahmat dari ITERA menekankan pentingnya edukasi mengenai peternakan lebah, termasuk kehidupan lebah, step by step pembuatan madu, dan aktivitas di lahan kosong, serta kolaborasi untuk memberikan informasi terkait lebah dan madu, menciptakan atraksi untuk memotivasi pengunjung.

Adi dari Travel Agent menyoroti pentingnya target marketing dengan branding yang kuat, fokus penelitian pada madu/lebah untuk menambah informasi edukasi wisata, peningkatan sustainability mengingat wisata Lampung seringkali hanya bersifat coba-coba, upgrade peta menuju Lembah Suhita, kolaborasi dengan masyarakat sekitar untuk mendukung akomodasi, pembuatan cerita yang berkesan, promosi melalui sample madu dan paket kunjungan yang terjangkau, serta penambahan rumah madu untuk menarik pangsa pasar anak-anak. Arif menekankan dampak mass tourism bagi masyarakat lokal, story telling untuk membangun wisata konservasi unggulan di Lampung, stronger branding untuk madu Suhita, dan perhatian pada paketan harga yang sesuai dengan segmen middle up.

Restu Bumi Travel mengusulkan penambahan edukasi selain lebah, seperti menanam padi, menjadikan Suhita Bee sebagai satu-satunya tempat Bee Education di Lampung. Ayu dari Krida Wisata Akademi menekankan penentuan konsep Lembah Suhita terlebih dahulu, pembuatan homestay maksimal 5 kamar dengan fokus edukasi madu, serta belajar dari kebutuhan konsumen. Yopi dari Direktur Papan Tour mengusulkan special interest tourism dengan fokus pada pengunjung yang ingin belajar lebah, tanpa membatasi segmen.

Enggar dari Politeknik Negeri Lampung menyatakan bahwa Suhita telah memiliki background yang kuat, lebih condong ke Special Interest Tourism daripada Mass Tourism, menjadikan bumi langit Institut Yogja/Rumah Archery sebagai panutan konsep wisata, dan promosi dengan tidak meninggalkan branding. Dineke, Expert dari Netherland, menekankan pentingnya meninggalkan informasi terkait lebah Suhita sebagai conservation tourism, menjadikan special interest terkait lebah, dan memberikan story telling terkait konservasi lebah.

Agus dari Restu Bumi Travel menyoroti batasan segmen pada level pendidikan yang menjadi tujuan pasar Lembah Suhita, kegiatan workshop sebagai tambahan kegiatan training, dan memunculkan informasi terkait konservasi lebah, seperti perawatan rumah lebah. Kesimpulan dari FGD ini adalah perlunya fokus pada special interest tourism berbasis konservasi lebah, story telling yang kuat, branding yang terarah, peningkatan edukasi dan atraksi yang relevan, kolaborasi dengan masyarakat dan stakeholder terkait, serta perhatian pada sustainability dan dampak positif bagi masyarakat lokal. Hasil diskusi ini akan menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi pengembangan Lembah Suhita sebagai destinasi eduwisata yang unik dan berkelanjutan.

Categories: Berita

Dosen Pariwisata ITERA melakukan Pendampingan Lembah Suhita dalam menyusun Business Action Plan dengan PUM Netherlands dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung

24 Juni 2025, Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari kerjasama antara Lembah Suhita, Program Studi Pariwisata ITERA (sebagai bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat – PkM), PUM Netherlands, dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. Tujuannya adalah untuk menyusun Business Action Plan  yang komprehensif dan terukur untuk pengembangan Lembah Suhita sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Pendampingan ini diharapkan dapat memberikan arah yang jelas dan strategi yang efektif bagi Lembah Suhita dalam meningkatkan daya saing, menarik wisatawan, dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama: diskusi internal mengenai keberlanjutan tata kelola (Hotel Kyriad) dan FGD serta audiensi dengan Dinas Pariwisata (Kantor Dinas Pariwisata).

Sesi ini diawali dengan sambutan dari perwakilan PUM Netherlands, yang menekankan pentingnya perencanaan yang matang dan berkelanjutan dalam pengembangan usaha pariwisata. Diharapkan Business Action Plan yang dihasilkan dapat menjadi panduan bagi Lembah Suhita dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada di industri pariwisata. Ibu Isnina selaku pemilik/pengelola Lembah Suhita menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh PUM Netherlands, Dinas Pariwisata, dan Program Studi Pariwisata ITERA. Beliau menekankan komitmen Lembah Suhita untuk mengembangkan pariwisata yang bertanggung jawab, menjaga kelestarian lingkungan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sesi II diawali dengan sambutan hangat dari Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bapak Bobby Irawan, S.E., M.Si. Beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif Lembah Suhita dalam mengembangkan potensi wisata di wilayah Lampung dan menyatakan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Selanjutnya, Dosen Pariwisata ITERA, Surya Tri Esthi Wira Hutama, S.T, M.PWK, memaparkan hasil diskusi internal mengenai keberlanjutan tata kelola di Lembah Suhita dan rencana pelaksanaan FGD multi stakeholder pada tanggal 25 Juni 2025. Beliau menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan untuk melibatkan berbagai pihak terkait dalam merumuskan rekomendasi untuk Business Action Plan Lembah Suhita.

Bobby Irawan menyambut baik rencana pelaksanaan FGD multi stakeholder dan menawarkan dukungan dari Dinas Pariwisata dalam memfasilitasi kegiatan tersebut. Beliau juga menyampaikan beberapa masukan mengenai pentingnya melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata, serta menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal. Diskusi kemudian difokuskan pada upaya rekognisi Lembah Suhita sebagai daya tarik wisata yang berfokus pada wellness tourism, wisata minat khusus, dan wisata edukasi. Bobby Irawan menyampaikan bahwa Dinas Pariwisata siap membantu Lembah Suhita dalam mempromosikan potensi wisata tersebut kepada wisatawan domestik dan mancanegara.

Selain itu, dibahas pula rencana kerjasama antara Lembah Suhita dan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung dalam pelaksanaan Krakatau Run yang akan diselenggarakan pada tanggal 6 Juli 2025. Disepakati bahwa Lembah Suhita akan berpartisipasi dalam Krakatau Run dengan membuka booth promosi, menyediakan produk-produk lokal untuk peserta, dan menawarkan paket wisata khusus ke Lembah Suhita. Bobby Irawan berharap kerjasama ini dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap potensi wisata Lembah Suhita dan mendukung pengembangan pariwisata di Provinsi Lampung secara keseluruhan. Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, akademisi, dan masyarakat lokal dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Categories: Berita

Sebagai Bentuk Kerjasama, Lembah Suhita mengadakan kegiatan (Advance Training:Tour Guide and Storytelling Techniques)

Bandar Lampung, 22 Juni 2025 — Lembah Suhita bersama Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) telah sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata (Tour Guide) dan Teknik Storytelling. Kegiatan ini dilaksanakan langsung di kawasan Lembah Suhita pada Minggu, 22 Juni 2025, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Tim internal Lembah Suhita dan mahasiswa Program Studi Pariwisata ITERA. Adapun mahasiswa yang turut berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan ini adalah: Tiana Edsa Azzahra, Nadia Trie Kola, Anggrek Nafisha Nur Azzahra, Sabrina Thifal Fadhilah, Kerin Aiko Wibowo, dan Yeremia Elshadday Shalom.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Dineke Koerts, seorang dosen dan peneliti senior di bidang pariwisata dari Breda University of Applied Sciences, Belanda. Beliau juga merupakan bagian dari program pendampingan PUM Netherlands, yang selama ini aktif dalam mendukung pengembangan kapasitas usaha kecil dan menengah di berbagai negara. Dalam sesi pelatihannya, Dr. Koerts menekankan pentingnya kepekaan dalam membawakan narasi wisata secara menyentuh dan bermakna. Beliau menyampaikan bahwa, “To be a tour guide, you must be sympathetic, empathetic, and capable of creating memorable experiences—something tourists have never experienced before. In storytelling, aim to be as engaging and clear as possible. Don’t just talk about the facts, but tell the story behind those facts.” Institut Teknologi Sumatera, Program Studi Pariwisata

Pelatihan ini telah terselenggara dengan baik dan interaktif antara pemateri dan peserta pelatihan dengan materi pelatihan mencakup teknik profesional menjadi pemandu wisata, praktik storytelling yang kreatif dan relevan secara budaya, simulasi interpretasi wisata edukatif di kawasan peternakan lebah, serta simulasi praktik guiding dan storytelling di kawasan wisata lebah dan apitherapy. Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta dapat menjadi pemandu wisata yang mampu menginspirasi, mendidik, dan membawa dampak positif, baik bagi wisatawan maupun masyarakat sekitar.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Lembah Suhita berharap dapat menghadirkan pemandu wisata yang tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga mampu menyampaikan edukasi secara mendalam melalui narasi yang menyentuh dan bermakna.

Categories: Berita