Lampung Selatan | 19 November 2025 — Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan telah menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum dengan tema “Penguatan Kompetensi Mata Kuliah Ekowisata dalam Mendukung Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Green Tourism)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 19 November 2025 di Ruang E108 FTIK ITERA dan menghadirkan Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, sebagai narasumber yang mewakili Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kepala Balai TNUK tidak bisa hadir pada kegiatan ini.

Penguatan Kurikulum untuk Menjawab Tantangan Ekowisata Berkelanjutan
Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Pariwisata ITERA, Fahmi Aziz, S.Si., M.Si., yang menekankan perlunya penguatan Mata Kuliah Ekowisata agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan konservasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Alumni FTIK, Dion Awfa, S.T., M.T., Ph.D., turut memberikan sambutan mengenai pentingnya integrasi perspektif kewilayahan dan teknologi informasi dalam pengembangan kurikulum pariwisata.
Pemaparan inti disampaikan oleh Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., yang menjelaskan konsep ekowisata berbasis konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon—habitat terakhir badak Jawa dan kawasan Warisan Dunia UNESCO. Beliau menguraikan sistem pengelolaan kawasan yang mencakup pengaturan daya dukung, perizinan SIMAKSI, sistem online booking, pengawasan berbasis patroli, serta implementasi pack in–pack out untuk pengelolaan sampah wisatawan. Selain itu dijelaskan pula zonasi taman nasional, peluang perancangan desain tapak wisata, serta karakter destinasi unggulan TNUK.
Peran Komunitas Lokal dan Tantangan Pengembangan Kawasan
Narasumber menekankan bahwa ekowisata tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat sekitar. Mulai dari pemandu, operator kapal, pemilik homestay, kuliner lokal, hingga pelaku UMKM, masyarakat memiliki kontribusi besar dalam praktik community-based tourism (CBT). Beliau juga memaparkan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, kapasitas SDM, serta urgensi untuk menjaga keharmonisan antara aktivitas wisata dan konservasi ekosistem.

Arah pengembangan TNUK di masa mendatang antara lain mencakup digitalisasi layanan wisata, diversifikasi produk minat khusus dan voluntourism, penguatan kolaborasi multipihak, serta peningkatan citra destinasi melalui strategi branding yang lebih kuat.
Diskusi: Relevansi Kurikulum, Tren Wisatawan, dan Standarisasi
Dalam sesi diskusi, dosen Prodi Pariwisata ITERA mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kompetensi wajib dalam Mata Kuliah Ekowisata, tren kunjungan wisatawan yang mencapai 10.000–15.000 pengunjung per tahun, kesiapan desa wisata dan pokdarwis, hingga relevansi SNI 2014 terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan tetap mengacu pada regulasi kehutanan terbaru, serta bahwa pembinaan pokdarwis difokuskan pada pengelolaan destinasi, bukan sekadar pembentukan desa wisata. Ia juga menegaskan bahwa pengamatan badak tidak lagi diperbolehkan demi menjaga populasi yang hanya sekitar 80–100 ekor.

Workshop berlangsung interaktif dan produktif. Kegiatan ini diharapkan memperkuat arah pengembangan kurikulum Prodi Pariwisata ITERA agar semakin relevan dengan tantangan pengelolaan kawasan konservasi, kebutuhan industri ekowisata, serta prinsip pembangunan berkelanjutan. Acara ditutup dengan diskusi lanjutan terkait peluang kerja sama akademik antara TNUK dan Program Studi Pariwisata ITERA.
