Kategori: Akademik

Penguatan Pembelajaran Lapangan: Mahasiswa Program Studi Pariwisata ITERA Eksplorasi Ekowisata di Kawasan Taman Nasional Way Kambas

Lampung Timur, 23 April 2026 — Mahasiswa Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melaksanakan kegiatan Kuliah Lapang Kolaboratif untuk mata kuliah Ekowisata dan Pengendalian Pengembangan Pariwisata pada Senin, 20 April 2026 hingga Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), termasuk desa penyangga, Balai TNWK, instansi terkait, serta beberapa titik kawasan wisata dan konservasi.

Kegiatan kuliah lapang ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami praktik pengelolaan ekowisata, pengembangan pariwisata berbasis kawasan konservasi, serta pengendalian dampak pengembangan pariwisata di wilayah penyangga taman nasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa melakukan observasi lapangan, pengumpulan data, diskusi dengan pihak terkait, serta menyusun rencana program berdasarkan temuan sementara di lapangan.

Pada hari pertama, Senin, 20 April 2026, mahasiswa melakukan keberangkatan menuju lokasi penginapan. Setelah tiba, kegiatan langsung dilanjutkan dengan turun ke lapangan. Beberapa kelompok mahasiswa melakukan observasi dan pengumpulan data di desa penyangga, yaitu Labuhan Ratu VI, Labuhan Ratu VII, Labuhan Ratu IX, dan Labuhan Ratu Induk.

Pada hari kedua, Selasa, 21 April 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan data lanjutan di desa-desa penyangga, kunjungan ke Balai TNWK, serta koordinasi dengan instansi terkait. Selain itu, mahasiswa juga melakukan observasi ke kawasan Plang Ijo/Rawa Bunder untuk melihat potensi, kondisi lapangan, serta aspek pengelolaan kawasan yang berkaitan dengan ekowisata dan pengendalian pengembangan pariwisata.

Pada hari ketiga, Rabu, 22 April 2026, mahasiswa kembali melakukan pengambilan data tambahan di desa-desa yang masih memerlukan pendalaman informasi. Kegiatan kemudian dilanjutkan ke kawasan PLG (Pusat Latihan Gajah) dan Balai TNWK. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pengelolaan kawasan konservasi, pemanfaatan ruang wisata, serta tantangan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata dan pelestarian lingkungan

Puncak kegiatan dilaksanakan pada hari keempat, Kamis, 23 April 2026, melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pihak Balai TNWK. Dalam forum tersebut, beberapa mahasiswa memaparkan hasil sementara kuliah lapang, termasuk temuan lapangan dan rencana program yang disusun berdasarkan hasil observasi. FGD ini menjadi ruang diskusi antara mahasiswa, dosen, dan pihak terkait untuk memberikan masukan terhadap gagasan program yang berorientasi pada penguatan ekowisata dan pengendalian pengembangan pariwisata di sekitar kawasan TNWK.

Kuliah lapang kolaboratif ini menghasilkan luaran utama berupa desain tapak ekowisata pada masing-masing kawasan observasi, yaitu Plang Ijo/Rawa Bunder dan PLG (Pusat Latihan Gajah). Selain itu, luaran dari mata kuliah Pengendalian Pengembangan Pariwisata berupa laporan rekomendasi pengendalian pengembangan pariwisata yang disusun berdasarkan hasil observasi lapangan, pengumpulan data, serta diskusi bersama pihak terkait. Luaran tersebut diharapkan dapat menjadi masukan awal dalam mendukung pengembangan ekowisata yang terarah, berkelanjutan, dan tetap memperhatikan fungsi konservasi kawasan TNWK.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pariwisata ITERA diharapkan dapat memahami bahwa pengembangan ekowisata tidak hanya berfokus pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat desa penyangga, serta pengendalian dampak pariwisata terhadap kawasan konservasi.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Perkuat Perencanaan Pariwisata Daerah, Mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA Lakukan Studi Lapangan di Pesisir Barat

Mahasiswa Pariwisata ITERA Gelar Kuliah Lapangan di Pesisir Barat, Susun Arah Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

Lampung Selatan, 04 Maret 2026 – Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) telah melaksanakan Kuliah Lapangan Studio Perencanaan Pariwisata pada tanggal 28 Februari – 07 Maret 2026 di Kabupaten Pesisir Barat. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa sekaligus forum akademik untuk memperkuat arah pengembangan pariwisata daerah.

Dalam FGD bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, mahasiswa melakukan kajian terhadap empat aspek utama dalam menyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPARDA), yaitu Destinasi, Industri, Pemasaran dan Kelembagaan. Diskusi ini membahas strategi penguatan kelembagaan pariwisata, upaya pemasaran untuk meningkatkan daya tarik wisata, pengembangan destinasi unggulan, serta penguatan industri pariwisata berbasis masyarakat.

Kabupaten Pesisir Barat memiliki 97 potensi daya tarik wisata yang tersebar di 11 kecamatan. Dari jumlah tersebut, terdapat lima destinasi unggulan yang menjadi ikon daerah, yakni Pantai Mandiri, Goa Matu, Pulau Pisang, Labuhan Jukung, dan Pantai Tanjung Setia. Kelima destinasi ini dikenal memiliki daya tarik yang khas, mulai dari wisata bahari, budaya, hingga ekowisata, dengan Pantai Tanjung Setia yang mendunia sebagai salah satu lokasi selancar terbaik.

Kegiatan Kuliah Lapangan Studio Perencanaan Pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat telah berjalan dengan baik dan interaktif. Program Studi Pariwisata ITERA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri, dan arah pembangunan berkelanjutan. Fokus kegiatan ini diarahkan pada empat aspek utama dalam RIPARDA yaitu Destinasi Industri, Pemasaran, dan Kelembagaan, yang menjadi pilar pengembangan pariwisata di Pesisir Barat. Melalui kerja sama yang terjalin antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat di 11 kecamatan, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan rekomendasi yang memperkuat posisi pariwisata Pesisir Barat sebagai sektor unggulan daerah.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Prodi Pariwisata, Eksplorasi Potensi dan Penyusunan Basis Data Pariwisata Berkelanjutan melalui Studio Perencanaan Pariwisata di Kabupaten Lampung Barat

Mahasiswa Pariwisata ITERA Sukses Laksanakan Survei Lapangan untuk Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan di Lampung Barat

Lampung Selatan, 10 Maret 2026 – Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang tergabung dalam kegiatan Studio Perencanaan Pariwisata telah sukses melaksanakan survei lapangan di Kabupaten Lampung Barat pada tanggal 28 Februari hingga 7 Maret 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun basis data yang komprehensif sebagai dasar perencanaan pariwisata berkelanjutan di wilayah Lampung Barat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan identifikasi terhadap empat aspek utama pengembangan pariwisata, yaitu destinasi, industri, pemasaran, dan kelembagaan.

Selama kegiatan berlangsung, tim mahasiswa berhasil mengidentifikasi dan memverifikasi sebanyak 97 daya tarik wisata serta 57 unit industri pariwisata yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Lampung Barat. Data yang diperoleh mencakup potensi wisata alam, budaya, hingga wisata petualangan yang menjadi keunggulan daerah yang dikenal sebagai “Bumi Sekala Bekhak”.

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan koordinasi aktif dengan pemerintah daerah. Pada 2 Maret 2026, mahasiswa melakukan audiensi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (DISPORAPAR) Kabupaten Lampung Barat. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara akademisi dan pemerintah dalam validasi data kebijakan, termasuk dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA).

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengidentifikasi potensi dan kondisi eksisting, tetapi juga menganalisis berbagai tantangan dalam pengembangan sektor pariwisata. Hasil survei diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai peluang pengembangan destinasi wisata serta menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Kabupaten Lampung Barat memiliki kekayaan potensi wisata yang beragam. Dengan pengelolaan yang optimal, sektor ini diyakini mampu menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kegiatan Studio Perencanaan Pariwisata ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik berbasis praktik bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata dunia pendidikan dalam mendukung pengembangan pariwisata daerah. Melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan hasil kegiatan ini dapat menjadi referensi strategis dalam memajukan pariwisata Kabupaten Lampung Barat agar semakin dikenal luas.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

PROGRAM STUDI PARIWISATA ITERA dan Taman Nasional Way Kambas Gelar FGD untuk Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Industri

Lampung Selatan, 25 November 2025 – Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum pada Senin, 24 November 2025 di Kantor Balai TNWK. Kegiatan ini bertujuan memperkuat relevansi kurikulum khususnya Mata Kuliah Ekowisata dan Studio Ekowisata melalui masukan langsung dari pengelola kawasan konservasi. FGD dihadiri oleh tim TNWK dan dosen-dosen Prodi Pariwisata ITERA, di antaranya Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par., Nana Putri Yanto, M.Sc., Lili Anggraini, M.Par., Ubaid Isna Yudhistira, S.Pd., M.Si., Doni Alfaruqy, M.Pd., serta Fahmi Aziz, S.Si., M.Si.,selaku Koordinator Program Studi Pariwisata dan Sahid, M.Sc selaku Ketua Pelaksana Kegiatan.

Penguatan Ecotourism Engineering dan Kolaborasi Akademik–Industri

Dalam diskusi, TNWK menekankan pentingnya penguatan karakter ITERA dalam bidang ecotourism engineering, mencakup desain kawasan wisata, analisis daya dukung dan daya tampung, serta integrasi ilmu lingkungan dan konservasi. TNWK juga menyoroti perlunya pemutakhiran data kapasitas pengunjung, mitigasi dampak lingkungan akibat aktivitas wisata, serta penerapan manajemen destinasi berbasis keberlanjutan.

Selain aspek teknis, pembahasan juga mencakup pengembangan materi berbasis budaya lokal, keterlibatan masyarakat sekitar, geowisata seperti susur sungai dan bird watching, serta digitalisasi pariwisata melalui pemasaran digital, analisis data wisatawan, virtual tourism, hingga tourism content creation.

Peluang Magang, Penelitian, dan Penyelarasan Regulasi

FGD turut membahas mekanisme kerja sama antara ITERA dan TNWK, termasuk peluang magang mahasiswa, penelitian, serta penyelarasan kurikulum dengan regulasi terbaru seperti P.36 Tahun 2024 mengenai PNBP dan ketentuan penelitian kawasan konservasi.

TNWK juga menegaskan bahwa mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau magang wajib membawa surat resmi dari ITERA serta proposal kegiatan untuk dipresentasikan sebelum diterbitkan persetujuan.

Mewujudkan Pembelajaran Berbasis Praktik dan Kebutuhan Lapangan

Kegiatan FGD ini memperkuat komitmen Prodi Pariwisata ITERA untuk menghadirkan pembelajaran berbasis praktik (project-based learning), terutama dalam Studio Ekowisata yang akan dilaksanakan. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi merancang kawasan ekowisata secara profesional mulai dari analisis kawasan, desain tapak, hingga penyusunan dokumen teknis.

Kerja sama strategis dengan TNWK menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa kurikulum pariwisata ITERA tidak hanya teoritis, tetapi selaras dengan kebutuhan industri dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi di lapangan.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

PRODI PARIWISATA ITERA Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Konservasi dan SDGs Dengan Taman Nasional UJUNG KULON

Lampung Selatan | 19 November 2025 — Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan telah menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum dengan tema “Penguatan Kompetensi Mata Kuliah Ekowisata dalam Mendukung Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Green Tourism)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 19 November 2025 di Ruang E108 FTIK ITERA dan menghadirkan Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, sebagai narasumber yang mewakili Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kepala Balai TNUK tidak bisa hadir pada kegiatan ini.

Penguatan Kurikulum untuk Menjawab Tantangan Ekowisata Berkelanjutan

Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Pariwisata ITERA, Fahmi Aziz, S.Si., M.Si., yang menekankan perlunya penguatan Mata Kuliah Ekowisata agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan konservasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Alumni FTIK, Dion Awfa, S.T., M.T., Ph.D., turut memberikan sambutan mengenai pentingnya integrasi perspektif kewilayahan dan teknologi informasi dalam pengembangan kurikulum pariwisata.

Pemaparan inti disampaikan oleh Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., yang menjelaskan konsep ekowisata berbasis konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon—habitat terakhir badak Jawa dan kawasan Warisan Dunia UNESCO. Beliau menguraikan sistem pengelolaan kawasan yang mencakup pengaturan daya dukung, perizinan SIMAKSI, sistem online booking, pengawasan berbasis patroli, serta implementasi pack in–pack out untuk pengelolaan sampah wisatawan. Selain itu dijelaskan pula zonasi taman nasional, peluang perancangan desain tapak wisata, serta karakter destinasi unggulan TNUK.

Peran Komunitas Lokal dan Tantangan Pengembangan Kawasan

Narasumber menekankan bahwa ekowisata tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat sekitar. Mulai dari pemandu, operator kapal, pemilik homestay, kuliner lokal, hingga pelaku UMKM, masyarakat memiliki kontribusi besar dalam praktik community-based tourism (CBT). Beliau juga memaparkan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, kapasitas SDM, serta urgensi untuk menjaga keharmonisan antara aktivitas wisata dan konservasi ekosistem.

Arah pengembangan TNUK di masa mendatang antara lain mencakup digitalisasi layanan wisata, diversifikasi produk minat khusus dan voluntourism, penguatan kolaborasi multipihak, serta peningkatan citra destinasi melalui strategi branding yang lebih kuat.

Diskusi: Relevansi Kurikulum, Tren Wisatawan, dan Standarisasi

Dalam sesi diskusi, dosen Prodi Pariwisata ITERA mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kompetensi wajib dalam Mata Kuliah Ekowisata, tren kunjungan wisatawan yang mencapai 10.000–15.000 pengunjung per tahun, kesiapan desa wisata dan pokdarwis, hingga relevansi SNI 2014 terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan tetap mengacu pada regulasi kehutanan terbaru, serta bahwa pembinaan pokdarwis difokuskan pada pengelolaan destinasi, bukan sekadar pembentukan desa wisata. Ia juga menegaskan bahwa pengamatan badak tidak lagi diperbolehkan demi menjaga populasi yang hanya sekitar 80–100 ekor.

Workshop berlangsung interaktif dan produktif. Kegiatan ini diharapkan memperkuat arah pengembangan kurikulum Prodi Pariwisata ITERA agar semakin relevan dengan tantangan pengelolaan kawasan konservasi, kebutuhan industri ekowisata, serta prinsip pembangunan berkelanjutan. Acara ditutup dengan diskusi lanjutan terkait peluang kerja sama akademik antara TNUK dan Program Studi Pariwisata ITERA.

Categories: Akademik Berita

Prodi Pariwisata Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan ITERA: Belajar Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Way Kambas

LAMPUNG SELATAN | 17 NOVEMBER 2025 Itera Angkatan 2024 Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu Lampung, 25 Oktober 2025 Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran praktis, mahasiswa Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera) Angkatan 2024 melaksanakan kegiatan kuliah lapangan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu 6, 7, dan 9. Kegiatan ini mengusung tema pariwisata keberlanjutan, dengan fokus untuk memahami dan mengaplikasikan konsep ekowisata serta pelestarian lingkungan dalam pengembangan destinasi pariwisata.

Selama kunjungan, mahasiswa diajak langsung untuk mempelajari bagaimana Taman Nasional Way Kambas sebagai kawasan konservasi gajah dan satwa langka lainnya menerapkan praktik pariwisata yang ramah lingkungan. Mereka berinteraksi dengan pengelola taman dan penggiat ekowisata, yang menjelaskan upaya pelestarian alam serta pemberdayaan komunitas lokal terkait.

Di Desa Labuhan Ratu, para mahasiswa melakukan observasi dan diskusi tentang pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga tanpa merusak kearifan lokal dan lingkungan. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan budaya sebagai aset utama pariwisata berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif pada pengembangan pariwisata di Lampung yang lebih sadar lingkungan dan komunitas.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Mahasiswa Pariwisata ITERA Hidupkan Kembali Dermaga Bom Kalianda Lewat Revitalisasi dan Festival Seni

Lampung Selatan, 1 November 2025 – Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, ITERA sukses melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Studio Manajemen Proyek Pariwisata dengan dosen pengampu Rahmattullah Harianja, S.T.Par., M.M., dan Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par. dikawasan Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung sejak 27 – 31 Oktober 2025 ini menjadi kolaborasi besar antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir untuk menghidupkan kembali kawasan yang sempat mengalami penurunan aktivitas wisata. Melalui dua rangkaian utama, yaitu program revitalisasi sosial kawasan Dermaga Bom dan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025, mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan teori manajemen proyek pariwisata, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kebersihan, estetika, ekonomi kreatif, dan kesadaran budaya masyarakat sekitar.

Revitalisasi Sosial Dermaga Bom: Menghidupkan Kembali Ruang Publik Pesisir
Kegiatan revitalisasi sosial yang dilakukan oleh kelas RB Program Studi Pariwisata ITERA bertujuan untuk
mengembalikan fungsi Dermaga Bom sebagai kawasan wisata. Selama 4 hari, mahasiswa bersama Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perhubungan, PDAM, dan berbagai instansi lainnya melaksanakan aksi clean-
up, perbaikan fasilitas umum, dan penataan area publik. Revitalisasi sosial ini meliputi pembersihan area
amphitheater, landmark, lorong UMKM, lapangan parkir, hingga panggung utama yang lama tidak digunakan.
Mahasiswa juga melakukan pemasangan lampu jalan dan mendukung perbaikan saluran air agar kawasan
lebih aman dan nyaman dikunjungi. Selain kegiatan fisik, mahasiswa menyusun rancangan revitalisasi digital
menggunakan aplikasi SketchUp yang menampilkan konsep penataan ulang kawasan pesisir berbasis
keberlanjutan dan ekonomi kreatif. Desain tersebut menonjolkan area kuliner laut, jalur pedestrian, serta
ruang interaksi sosial yang ramah lingkungan. Kegiatan ini juga menumbuhkan pengalaman profesional bagi
mahasiswa. Mereka terlibat langsung dalam observasi lapangan, perencanaan, dan koordinasi lintas sektor.

Festival Seni BoomBomb 2025: Kolaborasi Seni dan Budaya Lokal | Sebagai puncak kegiatan, mahasiswa menyelenggarakan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025 pada tanggal 31 Oktober 2025 di area amphitheater dan panggung Dermaga Bom. Festival ini mengangkat semangat dayatarik wisata pesisir melalui perayaan seni, budaya, dan kuliner khas Lampung Selatan. Festival yang berlangsung meriah ini menampilkan berbagai kegiatan, seperti live cooking Gulai Taboh, lomba mewarnai anak-anak, pertunjukan tari tradisional, drama musikal “12 Tuping Pudak”, hingga live music dari pelajar SMA dan SMK setempat. Tidak kurang dari 20 pelaku UMKM lokal turut berpartisipasi, menyajikan aneka kuliner pesisir dan produk kerajinan masyarakat. Konsep festival dirancang dengan tujuan memperkuat identitas budaya Lampung Selatan sekaligus mendorong ekonomi kreatif masyarakat pesisir. Dukungan penuh datang dari Dinas Lingkungan Hidup, Polres Lampung Selatan, DPRD, dan Karang Taruna setempat yang ikut membantu keamanan serta logistik kegiatan. “Festival BoomBomb bukan hanya ajang hiburan, tetapi momentum kebangkitan kawasan Dermaga Bom sebagai ruang budaya dan ekonomi rakyat,” ungkap salah satu panitia mahasiswa.

Capaian dan Dampak Nyata
Dari hasil evaluasi kegiatan, baik program revitalisasi maupun festival berhasil mencapai lebih dari 97% target
kinerja. Seluruh indikator, mulai dari keterlibatan masyarakat, kolaborasi lintas instansi, hingga keberhasilan
pelaksanaan acara, menunjukkan hasil optimal.

  1. Enam instansi pemerintah terlibat aktif dalam mendukung kegiatan.
  2. Enam kali aksi clean up dilaksanakan, melebihi target awal empat kali.
  3. Kondisi kawasan Dermaga Bom kini lebih bersih, tertata, dan nyaman.
  4. Partisipasi UMKM dan komunitas seni lokal mencapai 100% dari target yang direncanakan.
  5. Dampak kegiatan tidak hanya terlihat dari aspek fisik, tetapi juga sosial dan edukatif. Masyarakat sekitar kini memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kebersihan dan potensi wisata kawasan. Mahasiswa pun mengalami peningkatan signifikan dalam kompetensi profesional, mulai dari perencanaan proyek, komunikasi publik, hingga kepemimpinan dan kerja sama tim.
  6. Selain itu, kegiatan ini berhasil mengembalikan fungsi amphitheater dan panggung kesenian Dermaga Bom yang sempat tidak aktif. Pertunjukan seni lokal selama festival menjadi bukti bahwa ruang budaya tersebut kembali hidup dan menjadi pusat interaksi masyarakat.

Sinergi Akademik dan Industri Pariwisata
Kegiatan revitalisasi dan Festival Seni BoomBomb menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan
industri pariwisata. ITERA berperan sebagai fasilitator pengembangan destinasi berbasis penelitian dan
pemberdayaan, sementara masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi mitra implementatif di lapangan.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam penguatan ekonomi daerah
melalui inovasi dan kerja nyata mahasiswa. Dengan melibatkan komunitas seni, UMKM, dan pemerintah
daerah, kegiatan ini menjadi model ideal project-based learning yang selaras dengan prinsip Tri Dharma
Perguruan Tinggi. “Kerja sama seperti ini perlu dijadikan agenda tahunan. Selain menjadi laboratorium pembelajaran, kegiatan
ini mampu mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat,”
ujar salah satu pelaku seni Kota Kalianda.
Keberhasilan mahasiswa pariwisata ITERA dalam menghidupkan kembali Dermaga Bom Kalianda melalui
revitalisasi sosial dan festival seni membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor penggerak
perubahan dalam sektor pariwisata. Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian lingkungan,
kegiatan ini menjadi contoh nyata penerapan ilmu di dunia nyata sekaligus kontribusi akademik terhadap
pembangunan daerah. Melalui kegiatan ini, Dermaga Bom Kalianda tidak lagi sekadar pelabuhan pendaratan
ikan, tetapi berubah menjadi simbol kebangkitan pariwisata berbasis budaya, lingkungan, dan komunitas
pesisir Kota Kalianda.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

PROGRAM STUDI PARIWISATA MENYELENGGARAKAN KULIAH TAMU: Menyelam, Merencanakan, Menginspirasi: Integrasi Diving, Konservasi, dan Perencanaan Pariwisata

Lampung Selatan | 7 OKTOBER 2025

Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertema “Menyelam, Merencanakan, Menginspirasi: Integrasi Diving, Konservasi, dan Perencanaan Pariwisata”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Pengantar Perencanaan Pariwisata (PAR25-11007) dan diikuti oleh sekitar 75 mahasiswa angkatan awal secara daring melalui Google Meet.

Acara ini menghadirkan praktisi profesional pariwisata, yakni Founder sekaligus Instruktur Diving tersertifikasi dari Gajah Laut Dive Centre, sebuah lembaga pelatihan dan operator wisata selam terkemuka di Provinsi Lampung yang juga menaungi beberapa subsidiary company di bidang wisata bahari dan edukasi kelautan. Kegiatan berlangsung selama dua jam, dihadiri oleh para dosen pengampu mata kuliah, dan berjalan dalam suasana diskusi aktif dan interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pengalaman nyata yang dibagikan narasumber, khususnya mengenai bagaimana perencanaan pariwisata minat khusus seperti diving menuntut keseimbangan antara aspek keselamatan, pengalaman wisatawan, tata kelola destinasi, dan konservasi lingkungan pesisir.

Highlight Materi dan Relevansi Akademik

Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa sektor special interest tourism (SIT) seperti diving memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga risiko ekologis besar jika tidak direncanakan secara matang. Oleh karena itu, perencanaan pariwisata dalam konteks ini tidak hanya menyangkut desain produk wisata, tetapi juga mencakup:

1. Perencanaan produk dan operasional – mencakup penyusunan itinerary, pembatasan carrying capacity, profiling divers, standar keselamatan (rasio instruktur 1:4 atau 1:2), hingga first-aid dan emergency plan.

2. Tata kelola dan model bisnis – pentingnya kemitraan antar dive center, keseragaman standar layanan, serta penetapan harga berbasis quality assurance.

3. Keberlanjutan dan eduwisata – menghubungkan kegiatan diving dengan konservasi dan penelitian biota laut melalui program edukatif seperti fish & coral ID. 4. Studi Kasus Lampung – penerapan model bisnis berbasis kemitraan komunitas dan konservasi partisipatif di beberapa lokasi penyelaman di Lampung

Peluang Diving di Perairan Lampung

Narasumber menjelaskan bahwa perairan Lampung memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi diving kelas nasional dan bahkan internasional. Dengan kondisi geografis yang kaya akan terumbu karang dan biodiversitas laut, Lampung menyimpan lebih dari 40 titik penyelaman potensial di sekitar Teluk Lampung, Pulau Pahawang, Kelagian, dan Tegal Mas. Namun, potensi tersebut belum dioptimalkan secara maksimal karena masih terbatasnya infrastruktur pendukung, regulasi daya dukung wisata, dan kapasitas SDM lokal.

Dalam pengalamannya sebagai instruktur profesional dan pengelola Gajah Laut Dive Centre, pembicara menegaskan pentingnya perencanaan berbasis data untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wisata dan konservasi. Beliau menjelaskan bahwa setiap situs selam memerlukan analisis daya dukung, sistem rotasi penyelaman, serta edukasi kepada wisatawan agar tidak merusak biota laut. Melalui pendekatan ini, industri diving di Lampung tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat citra Lampung sebagai destinasi wisata bahari berkelanjutan.

Pesan Kunci: Pentingnya Perencanaan dalam Pariwisata Minat Khusus

Melalui pengalaman profesionalnya, narasumber menegaskan bahwa perencanaan merupakan fondasi utama dalam keberhasilan wisata minat khusus seperti diving. Tanpa perencanaan berbasis data—meliputi analisis risiko, daya dukung lokasi, dan etika penyelaman—aktivitas wisata selam dapat menimbulkan kerusakan permanen pada ekosistem laut. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, operator wisata, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Beliau juga menekankan bahwa pendekatan perencanaan berkelanjutan bukan hanya untuk melindungi alam, tetapi juga sebagai strategi bisnis jangka panjang. Ketika konservasi menjadi bagian integral dari desain produk wisata, kepercayaan wisatawan meningkat, nilai jual destinasi naik, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal pun terjaga.

Antusiasme Mahasiswa dan Dosen

Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan minat besar mahasiswa terhadap praktik perencanaan wisata berbasis konservasi. Mahasiswa aktif bertanya tentang potensi integrasi citizen science dalam destinasi wisata bahari Lampung, serta peluang karier di bidang eco-diving management. Para dosen pengampu yaitu Isye Susana Nurhasanah, S.T., M.Si(Han), PhD, Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. dan Ajeng Handayani Utami, S.P., M.PWK, menilai kegiatan ini sebagai pembelajaran autentik yang memperkuat keterkaitan antara teori perencanaan pariwisata dan praktik profesional di lapangan.

Kuliah tamu ini menjadi wujud komitmen Program Studi Pariwisata ITERA dalam memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi langsung dengan pelaku industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa perencanaan pariwisata tidak sekadar merancang atraksi, tetapi juga mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan ekologi dalam satu kerangka keberlanjutan yang utuh.

Categories: Akademik