Open House Prodi Pariwisata ITERA 2025: Menyiapkan Generasi Perencana Destinasi Berbasis Sains dan Teknologi

Bandar Lampung, 6 Desember 2025 — Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Program Studi Pariwisata kembali menyelenggarakan Open House Pariwisata ITERA 2025, sebuah kegiatan tahunan yang diperuntukkan bagi calon mahasiswa, pelajar SMA/SMK, guru, serta masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat karakteristik pendidikan pariwisata berbasis sains, teknologi, dan pendekatan spasial modern di ITERA.

Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan berbagai keunggulan Prodi Pariwisata ITERA dalam menyiapkan calon perencana dan pengembang destinasi wisata yang kreatif, analitis, serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dan pemodelan ruang dalam mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Rangkaian Kegiatan Open House Pariwisata ITERA 2025

Pengunjung Open House disuguhkan beragam aktivitas menarik dan edukatif, di antaranya:

  • Pameran karya mahasiswa, berupa peta destinasi wisata, visualisasi masterplan 3D, desain fasilitas resort dan taman wisata, serta majalah data hasil analisis destinasi.
  • Pemutaran video rancangan 2D dan dokumentasi kegiatan studio kuliah lapangan mahasiswa.
  • Simulasi perencanaan destinasi wisata menggunakan perangkat GIS dan teknologi pemodelan ruang.
  • Konsultasi akademik terkait kurikulum, peluang karier, serta kehidupan perkuliahan di ITERA.
  • Sesi pengenalan PMB ITERA untuk memberikan panduan lengkap kepada calon mahasiswa mengenai proses dan tahapan pendaftaran.
  • Showcase produk aplikasi dan project mahasiswa, yang dapat langsung dicoba oleh pelajar SMA/SMK dan pengunjung.

Melalui kegiatan ini, Prodi Pariwisata ITERA berharap dapat memberikan gambaran menyeluruh kepada calon mahasiswa mengenai karakter pendidikan pariwisata di ITERA yang mengintegrasikan aspek geospasial, konservasi, teknologi, dan inovasi. Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pendidikan pariwisata di Sumatera dan Indonesia.

Categories: Berita Kegiatan

Mahasiswa Pariwisata ITERA Kembangkan Aplikasi Eduwisata Berbasis Augmented Reality di Kebun Raya Itera

Lampung Selatan, 20 Oktober 2025, tim mahasiswa Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera)—yang beranggotakan Muhammad Alfazri, Kuta Dewata Realino Marpaung, Karima Zahrani Rahman, Vinola Cahyanti, dan Alan Muslih Pratama Dongoran—berhasil mengembangkan prototipe aplikasi eduwisata berbasis Augmented Reality (AR) bernama Amara Patra. Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan Sahid, M.Sc., dan merupakan bagian dari program hibah penelitian mahasiswa Itera Tahun 2025. Proyek ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi Pariwisata Itera mampu mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan edukasi dan pariwisata secara inovatif.

Aplikasi Amara Patra hadir sebagai solusi untuk meningkatkan penyampaian informasi flora di Kebun Raya Itera, yang berfungsi sebagai pusat konservasi, edukasi, penelitian, sekaligus tujuan wisata. Informasi flora selama ini disajikan melalui papan nama dan barcode statis yang terbatas dalam memberikan pengalaman belajar yang mendalam. Melalui teknologi AR, pengunjung kini dapat melihat model 3D tanaman secara langsung melalui gawai mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik, imersif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk pelajar dan wisatawan. Selain menampilkan objek tiga dimensi, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna mengakses informasi lengkap mengenai tanaman tersebut, mulai dari nama, klasifikasi, fungsi, hingga karakteristik flora, sehingga pengalaman eduwisata menjadi lebih komprehensif dan bermakna.

Hasil penelitian mengungkapkan tingginya kebutuhan pengunjung terhadap media pembelajaran yang lebih modern dan menarik. Sebanyak 90,3% responden menilai tampilan visual yang jelas sangat membantu dalam memahami informasi tanaman. Selain itu, 93,5% responden merasa pembelajaran lebih efektif ketika disajikan melalui kombinasi teks, gambar, dan video, sedangkan 80,6% responden menyatakan preferensi terhadap media interaktif seperti AR dibandingkan barcode konvensional. Aplikasi Amara Patra juga memperoleh tingkat penerimaan pengguna (UAT) sebesar 76,03%, yang menunjukkan bahwa aplikasi ini diterima dengan baik dan berpotensi kuat digunakan sebagai media pendukung eduwisata berbasis teknologi di Kebun Raya Itera.

memungkinkan objek tanaman 3D muncul saat kamera diarahkan pada marker atau permukaan tertentu, serta Fitur Informasi Tanaman yang menyajikan deskripsi mengenai setiap flora yang ditampilkan. Prototipe awal mencakup model 3D Bunga Terompet, Kamboja, dan Bunga Matahari. Keberhasilan ini menunjukkan kesiapan aplikasi untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dalam jumlah konten, fitur, maupun penyempurnaan visual.

Dengan hadirnya Amara Patra, mahasiswa Pariwisata Itera telah membuktikan kemampuan mereka dalam memadukan pengetahuan pariwisata dengan inovasi digital. Inisiatif ini tidak hanya menghadirkan media edukasi yang lebih menarik dan efektif, tetapi juga memperkuat peran Kebun Raya Itera sebagai destinasi eduwisata modern, interaktif, dan berkelanjutan yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

Categories: Berita Kegiatan

PROGRAM STUDI PARIWISATA ITERA dan Taman Nasional Way Kambas Gelar FGD untuk Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Industri

Lampung Selatan, 25 November 2025 – Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum pada Senin, 24 November 2025 di Kantor Balai TNWK. Kegiatan ini bertujuan memperkuat relevansi kurikulum khususnya Mata Kuliah Ekowisata dan Studio Ekowisata melalui masukan langsung dari pengelola kawasan konservasi. FGD dihadiri oleh tim TNWK dan dosen-dosen Prodi Pariwisata ITERA, di antaranya Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par., Nana Putri Yanto, M.Sc., Lili Anggraini, M.Par., Ubaid Isna Yudhistira, S.Pd., M.Si., Doni Alfaruqy, M.Pd., serta Fahmi Aziz, S.Si., M.Si.,selaku Koordinator Program Studi Pariwisata dan Sahid, M.Sc selaku Ketua Pelaksana Kegiatan.

Penguatan Ecotourism Engineering dan Kolaborasi Akademik–Industri

Dalam diskusi, TNWK menekankan pentingnya penguatan karakter ITERA dalam bidang ecotourism engineering, mencakup desain kawasan wisata, analisis daya dukung dan daya tampung, serta integrasi ilmu lingkungan dan konservasi. TNWK juga menyoroti perlunya pemutakhiran data kapasitas pengunjung, mitigasi dampak lingkungan akibat aktivitas wisata, serta penerapan manajemen destinasi berbasis keberlanjutan.

Selain aspek teknis, pembahasan juga mencakup pengembangan materi berbasis budaya lokal, keterlibatan masyarakat sekitar, geowisata seperti susur sungai dan bird watching, serta digitalisasi pariwisata melalui pemasaran digital, analisis data wisatawan, virtual tourism, hingga tourism content creation.

Peluang Magang, Penelitian, dan Penyelarasan Regulasi

FGD turut membahas mekanisme kerja sama antara ITERA dan TNWK, termasuk peluang magang mahasiswa, penelitian, serta penyelarasan kurikulum dengan regulasi terbaru seperti P.36 Tahun 2024 mengenai PNBP dan ketentuan penelitian kawasan konservasi.

TNWK juga menegaskan bahwa mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau magang wajib membawa surat resmi dari ITERA serta proposal kegiatan untuk dipresentasikan sebelum diterbitkan persetujuan.

Mewujudkan Pembelajaran Berbasis Praktik dan Kebutuhan Lapangan

Kegiatan FGD ini memperkuat komitmen Prodi Pariwisata ITERA untuk menghadirkan pembelajaran berbasis praktik (project-based learning), terutama dalam Studio Ekowisata yang akan dilaksanakan. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi merancang kawasan ekowisata secara profesional mulai dari analisis kawasan, desain tapak, hingga penyusunan dokumen teknis.

Kerja sama strategis dengan TNWK menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa kurikulum pariwisata ITERA tidak hanya teoritis, tetapi selaras dengan kebutuhan industri dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi di lapangan.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

PRODI PARIWISATA ITERA Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Ekowisata Berbasis Konservasi dan SDGs Dengan Taman Nasional UJUNG KULON

Lampung Selatan | 19 November 2025 — Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan telah menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum dengan tema “Penguatan Kompetensi Mata Kuliah Ekowisata dalam Mendukung Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Green Tourism)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 19 November 2025 di Ruang E108 FTIK ITERA dan menghadirkan Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, sebagai narasumber yang mewakili Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kepala Balai TNUK tidak bisa hadir pada kegiatan ini.

Penguatan Kurikulum untuk Menjawab Tantangan Ekowisata Berkelanjutan

Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Pariwisata ITERA, Fahmi Aziz, S.Si., M.Si., yang menekankan perlunya penguatan Mata Kuliah Ekowisata agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan konservasi. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Alumni FTIK, Dion Awfa, S.T., M.T., Ph.D., turut memberikan sambutan mengenai pentingnya integrasi perspektif kewilayahan dan teknologi informasi dalam pengembangan kurikulum pariwisata.

Pemaparan inti disampaikan oleh Eka Yanuar Pribadi, S.Hut., yang menjelaskan konsep ekowisata berbasis konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon—habitat terakhir badak Jawa dan kawasan Warisan Dunia UNESCO. Beliau menguraikan sistem pengelolaan kawasan yang mencakup pengaturan daya dukung, perizinan SIMAKSI, sistem online booking, pengawasan berbasis patroli, serta implementasi pack in–pack out untuk pengelolaan sampah wisatawan. Selain itu dijelaskan pula zonasi taman nasional, peluang perancangan desain tapak wisata, serta karakter destinasi unggulan TNUK.

Peran Komunitas Lokal dan Tantangan Pengembangan Kawasan

Narasumber menekankan bahwa ekowisata tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat sekitar. Mulai dari pemandu, operator kapal, pemilik homestay, kuliner lokal, hingga pelaku UMKM, masyarakat memiliki kontribusi besar dalam praktik community-based tourism (CBT). Beliau juga memaparkan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, kapasitas SDM, serta urgensi untuk menjaga keharmonisan antara aktivitas wisata dan konservasi ekosistem.

Arah pengembangan TNUK di masa mendatang antara lain mencakup digitalisasi layanan wisata, diversifikasi produk minat khusus dan voluntourism, penguatan kolaborasi multipihak, serta peningkatan citra destinasi melalui strategi branding yang lebih kuat.

Diskusi: Relevansi Kurikulum, Tren Wisatawan, dan Standarisasi

Dalam sesi diskusi, dosen Prodi Pariwisata ITERA mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kompetensi wajib dalam Mata Kuliah Ekowisata, tren kunjungan wisatawan yang mencapai 10.000–15.000 pengunjung per tahun, kesiapan desa wisata dan pokdarwis, hingga relevansi SNI 2014 terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan tetap mengacu pada regulasi kehutanan terbaru, serta bahwa pembinaan pokdarwis difokuskan pada pengelolaan destinasi, bukan sekadar pembentukan desa wisata. Ia juga menegaskan bahwa pengamatan badak tidak lagi diperbolehkan demi menjaga populasi yang hanya sekitar 80–100 ekor.

Workshop berlangsung interaktif dan produktif. Kegiatan ini diharapkan memperkuat arah pengembangan kurikulum Prodi Pariwisata ITERA agar semakin relevan dengan tantangan pengelolaan kawasan konservasi, kebutuhan industri ekowisata, serta prinsip pembangunan berkelanjutan. Acara ditutup dengan diskusi lanjutan terkait peluang kerja sama akademik antara TNUK dan Program Studi Pariwisata ITERA.

Categories: Akademik Berita

Prodi Pariwisata Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan ITERA: Belajar Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Way Kambas

LAMPUNG SELATAN | 17 NOVEMBER 2025 Itera Angkatan 2024 Gelar Kuliah Lapangan Pariwisata Berkelanjutan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu Lampung, 25 Oktober 2025 Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran praktis, mahasiswa Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera) Angkatan 2024 melaksanakan kegiatan kuliah lapangan di Taman Nasional Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu 6, 7, dan 9. Kegiatan ini mengusung tema pariwisata keberlanjutan, dengan fokus untuk memahami dan mengaplikasikan konsep ekowisata serta pelestarian lingkungan dalam pengembangan destinasi pariwisata.

Selama kunjungan, mahasiswa diajak langsung untuk mempelajari bagaimana Taman Nasional Way Kambas sebagai kawasan konservasi gajah dan satwa langka lainnya menerapkan praktik pariwisata yang ramah lingkungan. Mereka berinteraksi dengan pengelola taman dan penggiat ekowisata, yang menjelaskan upaya pelestarian alam serta pemberdayaan komunitas lokal terkait.

Di Desa Labuhan Ratu, para mahasiswa melakukan observasi dan diskusi tentang pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga tanpa merusak kearifan lokal dan lingkungan. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan budaya sebagai aset utama pariwisata berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif pada pengembangan pariwisata di Lampung yang lebih sadar lingkungan dan komunitas.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Mahasiswa Pariwisata ITERA Hidupkan Kembali Dermaga Bom Kalianda Lewat Revitalisasi dan Festival Seni

Lampung Selatan, 1 November 2025 – Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, ITERA sukses melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Studio Manajemen Proyek Pariwisata dengan dosen pengampu Rahmattullah Harianja, S.T.Par., M.M., dan Dessy Reza Saputri, S.Par., MM.Par. dikawasan Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung sejak 27 – 31 Oktober 2025 ini menjadi kolaborasi besar antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir untuk menghidupkan kembali kawasan yang sempat mengalami penurunan aktivitas wisata. Melalui dua rangkaian utama, yaitu program revitalisasi sosial kawasan Dermaga Bom dan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025, mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan teori manajemen proyek pariwisata, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kebersihan, estetika, ekonomi kreatif, dan kesadaran budaya masyarakat sekitar.

Revitalisasi Sosial Dermaga Bom: Menghidupkan Kembali Ruang Publik Pesisir
Kegiatan revitalisasi sosial yang dilakukan oleh kelas RB Program Studi Pariwisata ITERA bertujuan untuk
mengembalikan fungsi Dermaga Bom sebagai kawasan wisata. Selama 4 hari, mahasiswa bersama Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perhubungan, PDAM, dan berbagai instansi lainnya melaksanakan aksi clean-
up, perbaikan fasilitas umum, dan penataan area publik. Revitalisasi sosial ini meliputi pembersihan area
amphitheater, landmark, lorong UMKM, lapangan parkir, hingga panggung utama yang lama tidak digunakan.
Mahasiswa juga melakukan pemasangan lampu jalan dan mendukung perbaikan saluran air agar kawasan
lebih aman dan nyaman dikunjungi. Selain kegiatan fisik, mahasiswa menyusun rancangan revitalisasi digital
menggunakan aplikasi SketchUp yang menampilkan konsep penataan ulang kawasan pesisir berbasis
keberlanjutan dan ekonomi kreatif. Desain tersebut menonjolkan area kuliner laut, jalur pedestrian, serta
ruang interaksi sosial yang ramah lingkungan. Kegiatan ini juga menumbuhkan pengalaman profesional bagi
mahasiswa. Mereka terlibat langsung dalam observasi lapangan, perencanaan, dan koordinasi lintas sektor.

Festival Seni BoomBomb 2025: Kolaborasi Seni dan Budaya Lokal | Sebagai puncak kegiatan, mahasiswa menyelenggarakan Festival Seni bertajuk Festival BoomBomb 2025 pada tanggal 31 Oktober 2025 di area amphitheater dan panggung Dermaga Bom. Festival ini mengangkat semangat dayatarik wisata pesisir melalui perayaan seni, budaya, dan kuliner khas Lampung Selatan. Festival yang berlangsung meriah ini menampilkan berbagai kegiatan, seperti live cooking Gulai Taboh, lomba mewarnai anak-anak, pertunjukan tari tradisional, drama musikal “12 Tuping Pudak”, hingga live music dari pelajar SMA dan SMK setempat. Tidak kurang dari 20 pelaku UMKM lokal turut berpartisipasi, menyajikan aneka kuliner pesisir dan produk kerajinan masyarakat. Konsep festival dirancang dengan tujuan memperkuat identitas budaya Lampung Selatan sekaligus mendorong ekonomi kreatif masyarakat pesisir. Dukungan penuh datang dari Dinas Lingkungan Hidup, Polres Lampung Selatan, DPRD, dan Karang Taruna setempat yang ikut membantu keamanan serta logistik kegiatan. “Festival BoomBomb bukan hanya ajang hiburan, tetapi momentum kebangkitan kawasan Dermaga Bom sebagai ruang budaya dan ekonomi rakyat,” ungkap salah satu panitia mahasiswa.

Capaian dan Dampak Nyata
Dari hasil evaluasi kegiatan, baik program revitalisasi maupun festival berhasil mencapai lebih dari 97% target
kinerja. Seluruh indikator, mulai dari keterlibatan masyarakat, kolaborasi lintas instansi, hingga keberhasilan
pelaksanaan acara, menunjukkan hasil optimal.

  1. Enam instansi pemerintah terlibat aktif dalam mendukung kegiatan.
  2. Enam kali aksi clean up dilaksanakan, melebihi target awal empat kali.
  3. Kondisi kawasan Dermaga Bom kini lebih bersih, tertata, dan nyaman.
  4. Partisipasi UMKM dan komunitas seni lokal mencapai 100% dari target yang direncanakan.
  5. Dampak kegiatan tidak hanya terlihat dari aspek fisik, tetapi juga sosial dan edukatif. Masyarakat sekitar kini memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kebersihan dan potensi wisata kawasan. Mahasiswa pun mengalami peningkatan signifikan dalam kompetensi profesional, mulai dari perencanaan proyek, komunikasi publik, hingga kepemimpinan dan kerja sama tim.
  6. Selain itu, kegiatan ini berhasil mengembalikan fungsi amphitheater dan panggung kesenian Dermaga Bom yang sempat tidak aktif. Pertunjukan seni lokal selama festival menjadi bukti bahwa ruang budaya tersebut kembali hidup dan menjadi pusat interaksi masyarakat.

Sinergi Akademik dan Industri Pariwisata
Kegiatan revitalisasi dan Festival Seni BoomBomb menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan
industri pariwisata. ITERA berperan sebagai fasilitator pengembangan destinasi berbasis penelitian dan
pemberdayaan, sementara masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi mitra implementatif di lapangan.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam penguatan ekonomi daerah
melalui inovasi dan kerja nyata mahasiswa. Dengan melibatkan komunitas seni, UMKM, dan pemerintah
daerah, kegiatan ini menjadi model ideal project-based learning yang selaras dengan prinsip Tri Dharma
Perguruan Tinggi. “Kerja sama seperti ini perlu dijadikan agenda tahunan. Selain menjadi laboratorium pembelajaran, kegiatan
ini mampu mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat,”
ujar salah satu pelaku seni Kota Kalianda.
Keberhasilan mahasiswa pariwisata ITERA dalam menghidupkan kembali Dermaga Bom Kalianda melalui
revitalisasi sosial dan festival seni membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor penggerak
perubahan dalam sektor pariwisata. Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian lingkungan,
kegiatan ini menjadi contoh nyata penerapan ilmu di dunia nyata sekaligus kontribusi akademik terhadap
pembangunan daerah. Melalui kegiatan ini, Dermaga Bom Kalianda tidak lagi sekadar pelabuhan pendaratan
ikan, tetapi berubah menjadi simbol kebangkitan pariwisata berbasis budaya, lingkungan, dan komunitas
pesisir Kota Kalianda.

Categories: Akademik Berita Kegiatan

Mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA Laksanakan Kuliah Lapangan di Desa Kiluan Negeri untuk Pengembangan Produk Wisata

LAMPUNG SELATAN | 16 OKTOBER 2025

Mahasiswa Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Angkatan 2023 telah melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Pengembangan Produk Pariwisata di Desa Kiluan Negeri, Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari, mulai tanggal 28 September hingga 4 Oktober 2025, dengan dosen pengampu mata kuliah Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. Rombongan mahasiswa berangkat dari gerbang utama ITERA pada pukul 06.00 WIB, menuju Desa Kiluan Negeri yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Provinsi Lampung. Kegiatan lapangan ini diawali dengan Forum Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Pekon Kiluan Negeri serta beberapa stakeholder yang berperan dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata di wilayah tersebut.

Pihak Pemerintah Pekon menyambut dengan hangat kedatangan mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA dan menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Pihak Pekon dan masyarakat berharap melalui kehadiran mahasiswa dan pelaksanaan kuliah lapangan ini, pengembangan pariwisata di Desa Kiluan Negeri dapat semakin terarah dan berkelanjutan. Selama pelaksanaan kuliah lapangan, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara di sejumlah daya tarik wisata utama Desa Kiluan Negeri, di antaranya Batu Candi, Laguna Gayau, Pantai Pasir Putih, Batu Naga, Bukit Mulyan, dan Dermaga Apung. yang dibagi menjadi beberapa segmen di setiap dusun di Desa Kiluan Negeri seperti Dusun Kiluan Balak, Dusun Bandung Jaya, Dusun Sukamahi dan Dusun Teluk Baru. Selain itu, mahasiswa juga berkesempatan menyaksikan langsung atraksi lumba-lumba di perairan Kiluan dengan menggunakan kapal jukung nelayan setempat, sebuah pengalaman wisata yang menjadi ikon utama Desa Kiluan Negeri. Tak hanya itu, mahasiswa turut berkunjung ke Pulau Kelapa, destinasi eksotis yang menawarkan keindahan panorama laut dan menjadi bagian penting dari aktivitas wisata bahari di Desa Kiluan Negeri.

Selain itu, mahasiswa juga melakukan wawancara langsung dengan masyarakat lokal dan wisatawan guna memperoleh data terkait persepsi, pengalaman, dan kebutuhan wisata di Desa Kiluan Negeri. Kegiatan kuliah lapangan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan data bagi Mata Kuliah Pengembangan Produk Pariwisata, sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menganalisis potensi destinasi dan merancang strategi pengembangan produk wisata yang inovatif dan berkelanjutan.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Prodi Pariwisata ITERA mampu mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari selama kuliah, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas dan keberlanjutan pariwisata di Desa Kiluan Negeri.

Categories: Berita

PROGRAM STUDI PARIWISATA MENYELENGGARAKAN KULIAH TAMU: Menyelam, Merencanakan, Menginspirasi: Integrasi Diving, Konservasi, dan Perencanaan Pariwisata

Lampung Selatan | 7 OKTOBER 2025

Program Studi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertema “Menyelam, Merencanakan, Menginspirasi: Integrasi Diving, Konservasi, dan Perencanaan Pariwisata”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Pengantar Perencanaan Pariwisata (PAR25-11007) dan diikuti oleh sekitar 75 mahasiswa angkatan awal secara daring melalui Google Meet.

Acara ini menghadirkan praktisi profesional pariwisata, yakni Founder sekaligus Instruktur Diving tersertifikasi dari Gajah Laut Dive Centre, sebuah lembaga pelatihan dan operator wisata selam terkemuka di Provinsi Lampung yang juga menaungi beberapa subsidiary company di bidang wisata bahari dan edukasi kelautan. Kegiatan berlangsung selama dua jam, dihadiri oleh para dosen pengampu mata kuliah, dan berjalan dalam suasana diskusi aktif dan interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pengalaman nyata yang dibagikan narasumber, khususnya mengenai bagaimana perencanaan pariwisata minat khusus seperti diving menuntut keseimbangan antara aspek keselamatan, pengalaman wisatawan, tata kelola destinasi, dan konservasi lingkungan pesisir.

Highlight Materi dan Relevansi Akademik

Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa sektor special interest tourism (SIT) seperti diving memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga risiko ekologis besar jika tidak direncanakan secara matang. Oleh karena itu, perencanaan pariwisata dalam konteks ini tidak hanya menyangkut desain produk wisata, tetapi juga mencakup:

1. Perencanaan produk dan operasional – mencakup penyusunan itinerary, pembatasan carrying capacity, profiling divers, standar keselamatan (rasio instruktur 1:4 atau 1:2), hingga first-aid dan emergency plan.

2. Tata kelola dan model bisnis – pentingnya kemitraan antar dive center, keseragaman standar layanan, serta penetapan harga berbasis quality assurance.

3. Keberlanjutan dan eduwisata – menghubungkan kegiatan diving dengan konservasi dan penelitian biota laut melalui program edukatif seperti fish & coral ID. 4. Studi Kasus Lampung – penerapan model bisnis berbasis kemitraan komunitas dan konservasi partisipatif di beberapa lokasi penyelaman di Lampung

Peluang Diving di Perairan Lampung

Narasumber menjelaskan bahwa perairan Lampung memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi diving kelas nasional dan bahkan internasional. Dengan kondisi geografis yang kaya akan terumbu karang dan biodiversitas laut, Lampung menyimpan lebih dari 40 titik penyelaman potensial di sekitar Teluk Lampung, Pulau Pahawang, Kelagian, dan Tegal Mas. Namun, potensi tersebut belum dioptimalkan secara maksimal karena masih terbatasnya infrastruktur pendukung, regulasi daya dukung wisata, dan kapasitas SDM lokal.

Dalam pengalamannya sebagai instruktur profesional dan pengelola Gajah Laut Dive Centre, pembicara menegaskan pentingnya perencanaan berbasis data untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wisata dan konservasi. Beliau menjelaskan bahwa setiap situs selam memerlukan analisis daya dukung, sistem rotasi penyelaman, serta edukasi kepada wisatawan agar tidak merusak biota laut. Melalui pendekatan ini, industri diving di Lampung tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat citra Lampung sebagai destinasi wisata bahari berkelanjutan.

Pesan Kunci: Pentingnya Perencanaan dalam Pariwisata Minat Khusus

Melalui pengalaman profesionalnya, narasumber menegaskan bahwa perencanaan merupakan fondasi utama dalam keberhasilan wisata minat khusus seperti diving. Tanpa perencanaan berbasis data—meliputi analisis risiko, daya dukung lokasi, dan etika penyelaman—aktivitas wisata selam dapat menimbulkan kerusakan permanen pada ekosistem laut. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, operator wisata, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Beliau juga menekankan bahwa pendekatan perencanaan berkelanjutan bukan hanya untuk melindungi alam, tetapi juga sebagai strategi bisnis jangka panjang. Ketika konservasi menjadi bagian integral dari desain produk wisata, kepercayaan wisatawan meningkat, nilai jual destinasi naik, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal pun terjaga.

Antusiasme Mahasiswa dan Dosen

Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan minat besar mahasiswa terhadap praktik perencanaan wisata berbasis konservasi. Mahasiswa aktif bertanya tentang potensi integrasi citizen science dalam destinasi wisata bahari Lampung, serta peluang karier di bidang eco-diving management. Para dosen pengampu yaitu Isye Susana Nurhasanah, S.T., M.Si(Han), PhD, Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. dan Ajeng Handayani Utami, S.P., M.PWK, menilai kegiatan ini sebagai pembelajaran autentik yang memperkuat keterkaitan antara teori perencanaan pariwisata dan praktik profesional di lapangan.

Kuliah tamu ini menjadi wujud komitmen Program Studi Pariwisata ITERA dalam memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi langsung dengan pelaku industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa perencanaan pariwisata tidak sekadar merancang atraksi, tetapi juga mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan ekologi dalam satu kerangka keberlanjutan yang utuh.

Categories: Akademik

FTIK ITERA Menyelenggarakan Seminar Keprofesian

Lampung Selatan, 28 September 2025 | Setiap tanggal 27 September, dunia memperingati World Tourism Day (WTD) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global terhadap pentingnya sektor pariwisata. Tahun 2025, tema internasional yang diangkat adalah “Tourism and Sustainable Transformation”, yang menekankan peran pariwisata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih baik.

Sebagai Institusi pendidikan yang memiliki fokus pada pengembangan infrastruktur dan perencanaan wilayah, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) turut berpartisipasi dalam perayaan WTD 2025 melalui Seminar Keprofesian Program Studi Pariwisata. Acara ini menjadi wujud nyata kontribusi akademik dalam membangun kesadaran, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, masyarakat, dan praktisi pariwisata.

Tidak hanya melibatkan mahasiswa dan dosen, kegiatan ini juga menggandeng berbagai mitra eksternal, seperti Universitas Terbuka, Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, serta SMK Negeri 4 Bandar Lampung. Kolaborasi ini mencerminkan semangat keterbukaan dan kebersamaan dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan

Categories: Berita

Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang

25 Juni 2025, Lembah Suhita menjadi lokasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang,” sebagai kelanjutan kerjasama antara Program Studi Pariwisata ITERA dan Lembah Suhita. FGD ini bertujuan menghasilkan gagasan konkrit untuk pengembangan eduwisata berbasis lingkungan, menemukan strategi kolaboratif untuk integrasi destinasi dan promosi bersama, serta menyusun langkah awal untuk perencanaan lanjutan dan kemitraan.

Diskusi dimulai dengan berbagai audiensi dari perwakilan berbagai instansi dan sektor terkait. Sudarma dari Vila Kedaung mengusulkan penyelenggaraan wisata jeep eksklusif, branding wisata edukasi Lembah Suhita, perbaikan aksesibilitas jalan dengan tetap memperhatikan ekosistem, dan meminta operator untuk mengidentifikasi target pasar yang tepat. Rahmat dari ITERA menekankan pentingnya edukasi mengenai peternakan lebah, termasuk kehidupan lebah, step by step pembuatan madu, dan aktivitas di lahan kosong, serta kolaborasi untuk memberikan informasi terkait lebah dan madu, menciptakan atraksi untuk memotivasi pengunjung.

Adi dari Travel Agent menyoroti pentingnya target marketing dengan branding yang kuat, fokus penelitian pada madu/lebah untuk menambah informasi edukasi wisata, peningkatan sustainability mengingat wisata Lampung seringkali hanya bersifat coba-coba, upgrade peta menuju Lembah Suhita, kolaborasi dengan masyarakat sekitar untuk mendukung akomodasi, pembuatan cerita yang berkesan, promosi melalui sample madu dan paket kunjungan yang terjangkau, serta penambahan rumah madu untuk menarik pangsa pasar anak-anak. Arif menekankan dampak mass tourism bagi masyarakat lokal, story telling untuk membangun wisata konservasi unggulan di Lampung, stronger branding untuk madu Suhita, dan perhatian pada paketan harga yang sesuai dengan segmen middle up.

Restu Bumi Travel mengusulkan penambahan edukasi selain lebah, seperti menanam padi, menjadikan Suhita Bee sebagai satu-satunya tempat Bee Education di Lampung. Ayu dari Krida Wisata Akademi menekankan penentuan konsep Lembah Suhita terlebih dahulu, pembuatan homestay maksimal 5 kamar dengan fokus edukasi madu, serta belajar dari kebutuhan konsumen. Yopi dari Direktur Papan Tour mengusulkan special interest tourism dengan fokus pada pengunjung yang ingin belajar lebah, tanpa membatasi segmen.

Enggar dari Politeknik Negeri Lampung menyatakan bahwa Suhita telah memiliki background yang kuat, lebih condong ke Special Interest Tourism daripada Mass Tourism, menjadikan bumi langit Institut Yogja/Rumah Archery sebagai panutan konsep wisata, dan promosi dengan tidak meninggalkan branding. Dineke, Expert dari Netherland, menekankan pentingnya meninggalkan informasi terkait lebah Suhita sebagai conservation tourism, menjadikan special interest terkait lebah, dan memberikan story telling terkait konservasi lebah.

Agus dari Restu Bumi Travel menyoroti batasan segmen pada level pendidikan yang menjadi tujuan pasar Lembah Suhita, kegiatan workshop sebagai tambahan kegiatan training, dan memunculkan informasi terkait konservasi lebah, seperti perawatan rumah lebah. Kesimpulan dari FGD ini adalah perlunya fokus pada special interest tourism berbasis konservasi lebah, story telling yang kuat, branding yang terarah, peningkatan edukasi dan atraksi yang relevan, kolaborasi dengan masyarakat dan stakeholder terkait, serta perhatian pada sustainability dan dampak positif bagi masyarakat lokal. Hasil diskusi ini akan menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi pengembangan Lembah Suhita sebagai destinasi eduwisata yang unik dan berkelanjutan.

Categories: Berita