Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sumatra (ITERA) menjalin kerjasama dalam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) (Astrowisata dan Explorarasi Daya Tarik Wisata yang ada di pulau Sabu dan Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Astrowisata merupakan suatu kegiatan yang menggabungkan antara Pariwisata dengan Astronomi. “Astrowisata memanfaatkan fenomena langit sebagai suatu kegiatan wisata. Salah satu kegiatan Astrowisata yang akan dilakukan di pulau Sabu dan Raijua adalah Starbath”. Starbath merupakan kegiatan dimana wisatawan dapat berbaring disuatu tempat yang gelap sambil melihat bintang dan benda-beda langit.

Kegiatan kolaborasi yang sangat dinantikan antara Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah dimulai dengan kedatangan mereka di Pulau Sabu pada hari Selasa, tanggal 30 April 2024. Kedatangan hangat perwakilan tim Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sumatra (ITERA) disambut oleh Bupati Kabupaten Sabu dan Raijua, Drs. Nikodemus N. Rihi Heke, M.Si.
Setelah sambutan hangat dari Bapak Bupati, perwakilan tim ITERA dan ITB melanjutkan kegiatan dengan mengadakan rapat bersama perwakilan dari Dinas Pariwisata setempat di Taman Doa Skyber. Acara rapat ini dimulai pada pukul 13.00-15.00 WITA. Rapat ini dibuka oleh Bapak Dr. Chatief Kunjaya, Mc. Sc yang dengan antusias menyampaikan tujuan dan harapannya untuk mengembangkan astrowisata di Pulau Sabu dan Raijua.
Bapak Dr. Chatief Kunjaya, Mc. Sc mengungkapkan bahwa rencana pengembangan Astrowisata ini telah dimulai sejak tahun 2019 bersama dengan Bapak Drs. Zadrach Ledoufij Dupe, M.Si. Awalnya, Pulau Sabu dan Raijua dipilih karena memiliki potensi alam yang luar biasa, tetapi dikarenakan sulitnya akses menuju pulau ini sehingga menjadikan pulau lain yang memiliki akses yang bagus sebagai pulau tujuan. Namun, pada tahun 2024 ini, Pulau Sabu dan Raijua kembali menjadi fokus pengembangan, khususnya sebagai Geopark yang memiliki potensi tidak hanya dalam Astronomi dan Bahari tetapi juga Geologi.
Rapat ini dihadiri oleh tim dari ITERA dan ITB yaitu Bapak Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. sebagai Kepala Program Studi Pariwisata dan perwakilan pariwisata, Ibu Valendya Rilansari S.P.W.K., M.P.W.K dari bidang Perencana Wilayah Kota (PWK), Ibu Happy Christin Natalia S.T., M.T. dari bidang Geologi, Bapak Angga Jati Widiatama, S.T., M.T. dari bidang Geologi dan Bapak Drs. Zadrach Ledoufij Dupe, M.Si. sebagai warga asli pulau Sabu dan Raijua serta dosen Sains dan Kepelanetan di ITERA.
Bapak Dr. Chatief Kunjaya, Mc. Sc memaparkan rencana kegiatan termasuk pelatihan dan koordinasi pada hari Rabu, 1 Mei 2024. Fokusnya adalah pembahasan potensi wisata dan konsep “Starbath” untuk menikmati keindahan langit malam. Selain itu, pembentukan instansi untuk mengatur polusi cahaya juga dibahas, dengan keterlibatan mahasiswa ITB dalam pengukuran dan pelatihan astrowisata.
Setelah pemaparan tersebut, terdapat penyampaian materi oleh Bapak Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. beliau menjelaskan tentang pelatihan kepariwisataan dan pembentukan sistem pariwisata yang melibatkan masyarakat, terutama Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), untuk pengembangan destinasi wisata di Pulau Sabu dan Raijua.

Pada hari kedua kedatangan tim dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Rabu 1 Mei 2024, telah diadakan rapat di aula dekat kantor Bupati Sabu dan Raijua. Rapat yang diadakan di aula ini dimulai pada pukul 09.00–15.00 WITA. Rapat ini bertujuan untuk menggali potensi Astrowisata dan pengembangan Geopark di Pulau Sabo. Rapat dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama, diikuti oleh penyambutan dari Bapak Asisten Dinas Kepariwisataan. Dalam sambutannya, Bapak Asisten Dinas Kepariwisataan Sabu dan Raijua menyampaikan terkait permasalahan yang ada di Pulau Sabu. Pada awalnya masyarakat Sabu Raijua mengira bahwa kekeringan dan panas yang melanda pulau Sabu dan Raijua sebagai bencana, namun ternyata hal yang mereka kira adalah bencana adalah sebuah anugerah jika dikelola dengan baik.
Pada sesi awal setalah penyambutan dilakukan pemaparan tentang Astrowisata yang disampaikan oleh Bapak Dr. Chatief Kunjaya, Mc. Sc selaku dosen Astronomi dan perwakilan dari Institut Teknolgi Bandung (ITB). Pemaparan ini menyoroti potensi ekonomi dan kecocokan Pulau Sabu sebagai destinasi utama untuk melakukan kegiatan Astrowisata. Meskipun demikian, ditemukan kendala seperti akses yang sulit sehingga mempengaruhi pengembangan Astrowisata di daerah tersebut. Potensi Geopark Pulau Sabu juga dibahas, termasuk daya tarik alam dan budaya seperti Goa dan Pantai-pantai yang menawan. Tantangan seperti infrastruktur dan manajemen limbah perlu diatasi untuk pengembangan yang berkelanjutan.
Pada sesi selanjutnya adalah pemaparan materi mengenai kegiatan Starbath yang disampaikan oleh Bapak Dr. Fargiza Abdan Malikul Mulki, M.Si. selaku dosen dan perwakilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Pemaparan materi ini menyoroti tentang kegiatan dan tata cara melakukan Starbath. “Starbath merupakan kegiatan dimana kita dapat berbaring diatas dipan (kasur) sambil memandangi langit malam yang indah” Selain itu disampaikan juga mengenai manfaat dan tata cara melakukan kegiatan Starbath.
Sesi ketiga terdapat penyampaian materi yang disampaikan oleh Bapak Asep Nurul Ajiid Mustofa, S.T., M.T. selaku dosen dan Kepala Program Studi Pariwisata perwakilan dari Institut Teknolgi Sumatra (ITERA). Materi yang disampaikan menyoroti tentang “Peran dan Tugas POKDARWIS”. Dalam pemaparan materi Bapak Asep menjelaskan mengenai tugas dan peran POKDARWIS serta pelatihan TERRA. selain itu juga dipaparkan mengenai Rantai Pariwisata, Pola Prilaku Wisatawan, Karakteristik Wisatawan dan Hubungan antara Host dan Guest.

Materi terakhir merupakan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Zadrach Ledoufij Dupe, M.Si. selaku dosen Sains Atmosfer Keplanetan dan perwakilan dari Institut Teknologi Sumatra. Beliau juga merupakan orang asli dari pulau Sabu. Dalam pemaparan materi yang disampaikan beliau, menyoroti dan membahas tentang “Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap kegiatan Astronomi, dengan penekanan pada kecocokan Pulau Sabu sebagai tempat pengamatan karena minimnya curah hujan.
Pada hari Kamis, 2 Mei 2024, tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sumatra (ITERA) mengadakan kegiatan pelatihan bersama dengan masyarakat asli Pulau Sabu Raijua (POKDARWIS). Kegiatan pelatihan ini berlangsung dari pukul 15.00 hingga 21.00 WITA. Pelatihan ini dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Pantai Rae Mea dan Pantai Napae.
Kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi mengenai bagaimana tata cara melakukan pelayanan (service) yang baik kepada wisatawan. Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dilatih tentang bagaimana cara menjadi “Tour Guide”. Mulai dari bagaimana cara menyambut tamu dari pintu masuk, cara tentang bagaimana sistem grooming yang baik, dan bagaimana cara memandu tamu agar tidak bosan selama melihat kondisi pantai. (Tentunya hal ini disesuaikan dengan ciri khas daerah Sabu. Selain hal tersebut para masyarakat (POKDARWIS) juga dilatih tentang bagaimana cara melakukan kegiatan starbath dan cara menggunakan aplikasi Setllarium untuk mengetahui jenis bintang apa yang dilihat. Kegiatan ini dilakukan dengan mendatangkan wisatawan asli yang sebelumnya sudah diorganisir untuk datang kepantai Rae Mea dan Pantai Napae.







