Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang

25 Juni 2025, Lembah Suhita menjadi lokasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Lembah Suhita dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang,” sebagai kelanjutan kerjasama antara Program Studi Pariwisata ITERA dan Lembah Suhita. FGD ini bertujuan menghasilkan gagasan konkrit untuk pengembangan eduwisata berbasis lingkungan, menemukan strategi kolaboratif untuk integrasi destinasi dan promosi bersama, serta menyusun langkah awal untuk perencanaan lanjutan dan kemitraan.

Diskusi dimulai dengan berbagai audiensi dari perwakilan berbagai instansi dan sektor terkait. Sudarma dari Vila Kedaung mengusulkan penyelenggaraan wisata jeep eksklusif, branding wisata edukasi Lembah Suhita, perbaikan aksesibilitas jalan dengan tetap memperhatikan ekosistem, dan meminta operator untuk mengidentifikasi target pasar yang tepat. Rahmat dari ITERA menekankan pentingnya edukasi mengenai peternakan lebah, termasuk kehidupan lebah, step by step pembuatan madu, dan aktivitas di lahan kosong, serta kolaborasi untuk memberikan informasi terkait lebah dan madu, menciptakan atraksi untuk memotivasi pengunjung.

Adi dari Travel Agent menyoroti pentingnya target marketing dengan branding yang kuat, fokus penelitian pada madu/lebah untuk menambah informasi edukasi wisata, peningkatan sustainability mengingat wisata Lampung seringkali hanya bersifat coba-coba, upgrade peta menuju Lembah Suhita, kolaborasi dengan masyarakat sekitar untuk mendukung akomodasi, pembuatan cerita yang berkesan, promosi melalui sample madu dan paket kunjungan yang terjangkau, serta penambahan rumah madu untuk menarik pangsa pasar anak-anak. Arif menekankan dampak mass tourism bagi masyarakat lokal, story telling untuk membangun wisata konservasi unggulan di Lampung, stronger branding untuk madu Suhita, dan perhatian pada paketan harga yang sesuai dengan segmen middle up.

Restu Bumi Travel mengusulkan penambahan edukasi selain lebah, seperti menanam padi, menjadikan Suhita Bee sebagai satu-satunya tempat Bee Education di Lampung. Ayu dari Krida Wisata Akademi menekankan penentuan konsep Lembah Suhita terlebih dahulu, pembuatan homestay maksimal 5 kamar dengan fokus edukasi madu, serta belajar dari kebutuhan konsumen. Yopi dari Direktur Papan Tour mengusulkan special interest tourism dengan fokus pada pengunjung yang ingin belajar lebah, tanpa membatasi segmen.

Enggar dari Politeknik Negeri Lampung menyatakan bahwa Suhita telah memiliki background yang kuat, lebih condong ke Special Interest Tourism daripada Mass Tourism, menjadikan bumi langit Institut Yogja/Rumah Archery sebagai panutan konsep wisata, dan promosi dengan tidak meninggalkan branding. Dineke, Expert dari Netherland, menekankan pentingnya meninggalkan informasi terkait lebah Suhita sebagai conservation tourism, menjadikan special interest terkait lebah, dan memberikan story telling terkait konservasi lebah.

Agus dari Restu Bumi Travel menyoroti batasan segmen pada level pendidikan yang menjadi tujuan pasar Lembah Suhita, kegiatan workshop sebagai tambahan kegiatan training, dan memunculkan informasi terkait konservasi lebah, seperti perawatan rumah lebah. Kesimpulan dari FGD ini adalah perlunya fokus pada special interest tourism berbasis konservasi lebah, story telling yang kuat, branding yang terarah, peningkatan edukasi dan atraksi yang relevan, kolaborasi dengan masyarakat dan stakeholder terkait, serta perhatian pada sustainability dan dampak positif bagi masyarakat lokal. Hasil diskusi ini akan menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi pengembangan Lembah Suhita sebagai destinasi eduwisata yang unik dan berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *